Waspadai Puncak Cuaca Ekstrem di Mataram

Salah satu pohon tumbang menimpa bangunan di Jalan Pariwisata Mataram, Kamis, 21 Januari 2021. Petugas bergerak cepat untuk memotong dahan pohon agar tidak mengganggu lalulintas. Puncak cuaca ekstrem sendiri diprediksi terjadi pada Januari-Februari. (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram mengantisipasi dampak hujan deras disertai angin kencang yang terjadi beberapa hari terakhir. Terlebih fenomena La Nina yang menjadi pemicu kondisi cuaca ekstrem tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga Mei 2021 mendatang.

“Kondisi cuaca yang sekarang ini terkait dengan fenomena La Nina ini terjadi di seluruh Indonesia. Kita perlu meningkatkan kewaspadaan sebagai langkah antisipasi. Karena fenomena (cuaca ekstrem) juga sudah mulai dari November 2020 kemarin, dan puncaknya memang Januari-Februari ini,” ujar Kabid Pencegahan dan Kesiap-siagaan BPBD Kota Mataram, Arif Rahman, Kamis, 21 Januari 2021.

Iklan

Diterangkan, berdasarkan informsai yang diterima pihaknya dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) indeks Dipole Mode (DM) saat ini diprediksi ada pada kategori netral hingga April 2021. Selain itu terdapat peluang hujan >100mm sebesar 50-70 persen salah satunya di Kota Mataram.

Hingga 22 Januari 2021 BMKG juga mencatat potensi hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir serta angin kencang di Kota Mataram.  Gelombang tinggi mencapai 2 meter lebih juga diprediksi dapat terjadi di Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian Selatan, Samudra Hindia selatan dan Selat Sape bagian selatan.

“Kalau di pesisir pantai kita masih normal memang, tapi kadang-kadang gelombang juga naik,” ujar Arif. Untuk mengantisipasi dampak cuaca buruk di pesisir pantai pihaknya menerjunkan tim patroli untuk memantau situasi. “Minimal sekali sehari tim turun memantau situasi. Anggota Satgas Penanggulangan Bencana Kota Mataram yang piket ada 20 orang, dan yang melakukan patrol di pantai bisa 3-6 orang,” sambungnya.

Potensi bencana lain yang menurutnya perlu menjadi atensi adalah abrasi dan pohon tumbang. Terkait pohon tumbang sendiri diakui menjadi kekhawatiran utama, mengingat kondisi pohon-pohon peneduh yang ada di sepanjang jalan utama dan jalan alternatif di Kota Mataram rentan tumbang.

“Sejak Januari ini lebih dari 20 pohon tumbang. Beberapa pohon di Kota Mataram memang sudah lapuk,” ujarnya. Dicontohkan seperti pohon tumbang di Jalan Pariwisata pada Kamis, 21 Januari 2021, di mana pohon tersebut tumbang karena batangnya yang lapuk.

“Itu pohon lumayan besar dan (tumbang) menghalangi jalan. Sudah langsung dieksekusi oleh teman-teman tadi pagi. Itu pohonnya memang sudah lapuk,” jelas Arif. Selain di Jalan Pariwisata, beberapa titik lain yang dinilai rawan pohon tumbang adalah di Jalan Pejanggik, Jalan Sriwijaya, Jalan Langko, Jalan Lingkar selatan. (bay)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional