Harga Bawang Merah Merosot, Petani Simpan Hasil Panen di Gudang

Bawang merah hasil panen yang digantung di gudang rumah milik salaseorang petani Desa Risa, Ruslan. Bawang merah disimpan menunggu harga stabil.(Suara NTB/Uki)

Bima (Suara NTB) – Harga bawang merah di wilayah Kabupaten Bima pelan-pelan mulai merosot tajam, jika dibandingkan beberapa Bulan sebelumnya, dengan harga jualnya Rp2 juta per100 kilogram. Namun harga jualnya kini dibawah Rp1,5 juta per100 kilogram.

Tidak ingin menjual dengan harga sangat murah yang membuat petani rugi. Sebagian besar diantara mereka terpaksa menyimpan hasil panen bawang merah di gudang rumahnya masing-masing.

Iklan

Seperti yang dilakukan oleh petani bawang merah Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima, Ruslan. Ia mengaku, terpaksa menyimpan hasil panennya di gudang karena harga bawang merah saat ini menurun.

 “Sudah 20 hari saya menyimpan bawang merah di gudang. Digantung begini saja,” katanya kepada Suara NTB, Selasa, 29 September 2020.

Ia mengaku terpaksa menyimpan bawang merah di gudang untuk sementara waktu, karena belum ingin menjual. Harga bawang merah saat ini juga belum stabil yakni berkisar antara Rp1 juta sampai dengan Rp1,2 juta per100 kilogram. “Kita tunggu stabil dulu baru dijual,” katanya.

Ruslan mengaku, dua atau tiga Bulan yang lalu, harga bawang merah cukup tinggi, yakni berkisar Rp1,5 juta perkilogram. Bahkan kata dia, pada awal pandemi Covid-19 harganya diatas Rp2 jutaan per100 kilogram. “Saat Corona harga bawang merah sangat tinggi. Tapi sekarang menurun drastis,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan petani bawang merah asal Desa Risa Kecamatan Woha, M. Ali. Ia mengaku, akhir Bulan September harga bawang merah mengalami penurunan cukup jauh jika dibandingkan awal Bulan Maret hingga Juli kemarin.

 “Saat korona kemarin harganya lumayan tinggi, tapi sekarang merosot tajam. Untuk sementara bawang hasil panen kami simpan dulu di gudang,” katanya.

Lebih dikatakannya, jika bawang merah di jual saat ini, kebanyakan petani akan mengalami kerugian. Bahkan tidak mampu menutupi biaya operasional selama proses tanam, mulai dari membeli bibit dan pestisida selama 60 hari.

“Biaya operasional selama proses tanam tidak sedikit yang dikeluarkan. Harga bibitnya saja kita beli Rp2 juta perkwintal,” katanya.

Ali menambahkan, dirinya akan menjual bawang merah maksimal dengan harga yang berkisar antara Rp1,5 juta atau Rp1,3 juta per100 kilogram. Dari harga tersebut bisa mengembalikan modal yang dikeluarkan.

 “Kalau dibawah ini kami merugi. Mudah-mudahan awal Bulan Oktober harganya kembali stabil,” katanya.

Terpisah Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Disperbun) Kabupaten Bima, Ir. Indra Jaya, mengakui harga komoditas bawang merah mengalami penurunan sejak beberapa pekan terakhir ini. “Memang harganya menurun. Sudah berlangsung dua pekan ini,” katanya.

Indra Jaya mengaku pemicu turunnya harga bawang merah lantaran saat ini sebahgian wilayah di Kabupaten Bima tengah panen. Hal itu juga diperparah dengan panennya bawang merah dari Brebes (Jawa) dan Sulawesi. “Banyaknya panen ini mengakibatkan penurunan harga,” pungkasnya. (uki)