Potret Miskin Warga KLU, MCK di Kali, Nyaris Dililit Ular Piton

Tanjung (Suara NTB) – Warga miskin di Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih banyak yang membutuhkan perhatian pemerintah dan pihak donatur lainnya.  Rata-rata mereka membutuhkan bantuan untuk perbaikan pembangunan rumah dan kebutuhan hidup lainnya. Apalagi banyak di antara warga miskin berusia tua.

Sebut saja Amaq Jumiarti (60-an tahun), warga RT 2, Dusun Orong Nagasari, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung. Minggu, 12 Maret 2017. Dada yang tak lagi bidang dengan punggung sedikit membungkuk, mencoba menuntun koran ini yang datang berkunjung bersama Ketua GR 10.000, Asmuni Bimbo. Kulit keriput, urat-urat yang terlihat hendak keluar, menggandeng kami untuk langsung masuk ke kediamannya.

Iklan

Ya, kediaman Amaq Jumiarti dan istri, Inaq Tresni (50-an tahun) baru setengahnya saja terenovasi berkat bantuan swadaya LSM GR 10.000. sekitar 500 batang batako, telah dikirim lebih dulu untuk memperbaiki pondasi rumah yang terdampak puting beliung beberapa bulan lalu. Hanya pondasi dapur saja yang bisa terbangun dari material itu. Tempat tinggal utama mereka yang menyatu dengan dapur, masih berupa dinding bedek (bambu). Dinding ini terlihat jarang, bahkan bolong. Dari dalam rumah, terlihat jelas suasana di luar yang cuacanya panas menyengat.

Di rumah ini, Jumiarti dan Tresni, tinggal berempat. Anak mereka, Eki Ridwan (20 tahun – anak tiri Jumiarti) lebih sering pulang hanya saat jam makan. Untuk menginap, ia lebih sering bermalam bersama anak-anak remaja kampung  tersebut. Abdul Rahman Kahfi (5 tahun) adalah satu-satunya anak kandung pasangan ini.

Jumarti selaku Kepala Keluarga (KK) menyadari betul keterbatasannya. Selain sudah tua renta, ia juga hanya bisa mengandalkan tenaga dan usaha sang istri dari berjualan sate usus. Tak ada aktivitas sambilan di usia senjanya yang bisa ia lakukan. Kondisi ini menyebabkannya tak mampu lagi memperbaiki rumah, apalagi membangun papan yang lebih layak untuk istri dan anak-anaknya. Tak heran, ia begitu terkejut dengan hadirnya Bimbo siang itu.

“Begini rupanya sekarang bapak, batako yang diberikan langsung kami perbaiki untuk bagian dapur, karena sudah hampir roboh. Bagian dinding yang lain masih seadanya, itu juga kami tegakkan sedikit penopangnya supaya tak roboh,” ucap Jumiarti dalam bahasa Sasak.

Sebagai korban puting beliung, pasangan keluarga ini seolah luput dari perhatian Pemda KLU. Di RT 2 dusun ini, KK ini juga tak masuk dalam program pemerintah sebagai penerima raskin. Aneh bukan? Untuk urusan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Jumiarti sudah beberapa kali didatangi, rumahnya dipotret tetapi programnya tak kunjung diterima.

Isi dalam rumah tak usah ditanya. Kelambu usang terpasang mengelilingi dipan sekadar untuk menghindari tak digigit nyamuk. Berdekatan dengan dinding bambu yang hampir bolong, terpajang satu unit TV 21 Inci. Televisi ini satu-satunya barang sekunder yang mereka beli dengan cara kredit dan berutang pada “Bank Subuh”. Barang ini ada bukan karena mereka mampu atau mempunyai uang lebih, melainkan sebagai media memperoleh hiburan akibat sulitnya ekonomi.

Sebagai penyangga ekonomi keluarga, Tresna setiap hari – sejak 10 tahun lalu, berjualan sate usus. Modalnya hanya Rp 200 ribu. Modalnya hasil pinjaman “Bank Subuh”. Sehari berjualan, pendapatan hanya cukup untuk menghidupi keluarga hari itu juga. Kelebihan berjualan yang diperoleh kebanyakan diprioritaskan untuk membayar bunga pinjaman di Koperasi.

“TV dan Kilometer listrik kami pinjam dari Bank Subuh. Sampai sekarang masih berutang. Kalau meter listrik baru sebulan ini terpasang,” klaim Tresna.

Ia mengaku pernah menghindari Bank Subuh dengan cara meminjam dana di kantor desa. Tetapi pengajuannya tak berjalan mulus. Sebagai pelaku usaha mikro, Tresna tak sekalipun tersentuh program. Bentuk program KUBE yang memberikan dana cuma-cuma sebesar Rp 2 juta kepada warga, tak sekalipun menyentuh keluarga ini. Konon lagi program Wira Usaha Baru yang kabarnya bermodal Rp 3 juta per orang. Bagi mereka, bentuk-bentuk program itu hanya jargon karena verifikasinya seolah tak mengenal wirausahawan-wirausahawan potensial dan layak dibantu.

Dengan kondisi rumah dan ekonomi keluarga seadanya itu, keluarga ini – khususnya Tresna, sempat mengalami pengalaman traumatik. Tak punya jamban, ia dan sebagian besar warga dusun lain memanfaatkan air kali di sebelah kampung tersebut. Air kali ini menjadi lokasi Tempat Pemandian Umum (TPU) warga, mencuci sekaligus kakus.

“Kami buang air juga di kali. Pernah sekali saat malam hari, saya pergi ke kali, tiba-tiba saya dikagetkan karena di sebelah saya meringkuk ular piton. Untung saya cepat lari, dan sejak saat itu saya trauma sampai 5 hari sakit,” tandasnya.

Sementara, Ketua GR 10.000, Asmuni Bimbo, yang mendengar curhat keluarga ini langsung merespon. Ia berjanji akan menuntaskan merenovasi kediaman Jumiarti dan Tresna. Janji itu dilontarkan sembari berdoa muncul donasi-donasi dari para dermawan yang kelebihan uang.

“GR 10.000 sudah sudah 4 bulan lalu mengirimkan 500 unit batako. Kami memang belum bisa melanjutkan karena ada prioritas perumahan lain yang lebih mendesak untuk diperbaiki. Tetapi saya janji, ini akan kami selesaikan,” ucapnya singkat. (ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here