Konflik Monta Belum Ada Solusi Permanen

Mataram (Suara NTB) – Penanganan konflik antara Lingkungan Monjok Culik dan Karang Taliwang (Monta) belum menemukan solusi permanen. Pemkot Mataram berulangkali melakukan mediasi. Bahkan, kedua belah pihak seringkali menandatangani kesepakatan damai. Konflik kedua kubu nyatanya masih juga pecah.

Kamis, 14 Desember 2017 sekitar pukul 03.00 Wita, konflik kembali pecah. Ini disebabkan letusan kembang api yang tidak diketahui sumbernya. Kedua belah pihak terpancing lalu keluar dan melengkapi diri dengan senjata tajam. Informasinya, keributan itu menimbulkan tiga korban jiwa.

Iklan

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang ditemui di ruang kerjanya mengaku, ada peningkatan eskalasi antara kedua belah pihak. Berbagai cara digunakan Pemkot Mataram untuk mendamaikan. Akan tetapi, konflik kembali pecah.

“Perdamaian tidak hanya di atas kertas tapi harus terinternalisasi. Kalau hanya menyatakan lembar kertas tapi masih ada luka yang mengganjal,” kata Martawang.

Peristiwa kecil yang seolah-olah menimbulkan konflik, meskipun demikian, Pemkot Mataram tetap berikhtiar menjalin perdamaian. Martawang menggambarkan, kondisi terkini di Monjok dan Karang Taliwang saat konflik. Aparat kepolisian dan TNI berusaha maksimal memisahkan kedua belah pihak yang terjadi benturan pendapat dan kepentingan.

Terkait tidak adanya perdamaian permanen? Mantan Kepala Bappeda ini mengatakan, nanti ada pembahasan internal mendalami lebih komprehensif konflik itu. Apa yang dilakukan tidak lain tujuannya adalah menciptakan kondisi kondusif saling berdampingan antar Monjok dan Taliwang.

“Nanti ada penanganan jangka pendek, menengah dan panjang,” sebutnya.

Pos terpadu sebagai antisipasi jangka pendek. Jangka menengah menyiapkan lapangan berinteraksi sosial. Interaksi sosial ini bagaimana menjalin persaudaraan antara kedua belah pihak yang berada pada posisi saling menghormati dan menjaga toleransi untuk menciptakan kondusivitas yang berkesinambungan.

Apakah konflik ini ada kaitannya dengan konsumsi politik jelang Pilkada? Martawang enggan menanggapi persoalan tersebut. Ada dua kemungkinan menurut dia. Pertama, konflik itu murni terjadi tanpa kepentingan apapun. Kedua, bisa saja itu dimanfaatkan oleh oknum tertentu. Akan tetapi, tidak bisa disampaikan demikian karena harus ada bukti yang menguatkan.

Kepala Bakesbangpol Kota Mataram, H. Rudi Suryawan menambahkan, konflik ini terulang sebenarnya ada rasa trauma kedua belah pihak. Rudi membantah jika kecolongan atau tidak maksimal melakukan pemantauan. Polisi dan TNI tetap memantau perkembangan di Monjok dan Karang Taliwang.

Namun, ia menduga ada oknum tersebut sengaja membuat kegaduhan. “Kalau saya perhatikan ini modus. Karena, saya sudah bertemu dengan pemuda di sana. Mereka ingin berdamai,” ucapnya.

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh saat membagikan sertifikat tanah ke 2.000 warga menegaskan, agar masyarakat tidak melakukan keributan. Sebagai daerah perkotaan harus malu, karena akan mengganggu investasi masuk ke Kota Mataram. “Jangan suka bikin ribut. Silahkan, kita sama – sama jaga keamanan kota kita,” imbuhnya. (cem)