Petani Keluhkan Harga Cabai Murah

Petani di Lombok Timur sedang panen cabai. (Suara NTB/yon)

Mataram (Suara NTB) – Para pengusaha dan petani cabai yang tergabung dalam Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) NTB mengeluhkan tingginya biaya kargo pengiriman cabai lewat pesawat dari NTB ke luar daerah. Mahalnya biaya kargo ini berimplikasi terhadap murahnya harga pembelian cabai di tingkat petani.

Koordinator Wilayah Lombok AACI NTB, L. Rudi Hartawan menyampaikan keluhan tersebut di hadapan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc, Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M. Pd dan sejumlah Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang hadir pada acara Jumpa Bang Zul dan Ummi Rohmi di Halaman Kantor Gubernur, Jumat, 11 Januari 2019 pagi.

Rudi Hartawan mengatakan, Lombok merupakan daerah sentra cabai di NTB. Banyak jenis cabai yang dibudidayakan, antara lain cabai rawit, cabai keriting, cabai lokal hijau dan lain-lain.

‘’Namun cabai yang dibudidayakan, terkendala dengan ongkos kirimnya. Harga cabai di luar daerah cukup bagus. Tapi ongkos kirim melalui kargo pesawat harganya cukup mahal,’’ kata Rudi Hartawan.

Karena ongkos pengiriman lewat pesawat mahal, maka harga pembelian ke petani menjadi murah. Sementara, biaya yang dikeluarkan petani untuk budidaya cabai sangat mahal.

‘’Karena sebagian besar petani menanam di musim hujan atau cuaca ekstrem. Memerlukan biaya yang lebih besar,’’ ucapnya.

Untuk itu, pihaknya sebagai wadah petani dan pengusaha cabai di NTB meminta agar biaya kargo diturunkan. Ia mengaku heran setiap bulan biaya kargo terus meningkat. Bahkan sejak awal tahun sampai sekarang sudah mengalami peningkatan 125 persen lebih. ‘’Kami sudah ke Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan dan DPRD Provinsi. Tapi belum ada solusi konkret,’’ katanya.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc mengatakan produk pertanian yang lain akan mengalami nasib yang sama jika belum ada industri pengolahan di dalam daerah. Oleh karena itu, gubernur meminta Kepala Dinas Perindustrian untuk  mencoba memikirkan  secara serius. Supaya cabai dapat  diolah di NTB. Begitu juga produk pertanian yang lain.

‘’Jangan sampai nanti pas waktu panen harganya murah, yang rugi selalu petani. Yang paling penting bagi produk pertanian kita, hadirnya industri pengolahan,’’ ujar Dr.Zul.

Ia mengatakan, menghadirkan industri olahan kelihatan sederhana tapi tidak gampang. Untuk itu, Dinas Perindustrian diminta bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan mencoba semaksimal mungkin agar produk pertanian dapat diolah di NTB.

‘’Tanpa itu kita akan selalu berjibaku dengan apa yang disampaikan. Untuk jangka pendek kita akan cari caranya. Apakah dibeli, ditampung dulu. Kan yang selalu rugi petani,’’ kata gubernur.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M. Si mengatakan mahalnya biaya kargo pengiriman cabai ke luar daerah punya dampak posistif dan negatif. Dampak positifnya harga cabai saat ini di pasaran berkisar antara  Rp25- 30 ribu perKkg. Tahun lalu, kata Selly,  harga cabai menembus angka Rp120 ribu per Kg.

‘’Sekarang masalahnya, asosiasi ini mengirim cabai ke Batam. Dari Batam dikirim ke luar negeri. Kenapa tidak dari sini saja dikirim ke luar negeri. Nanti saya hubungkan dengan bos kargo Garuda,’’ katanya.

Mantan Penjabat Walikota Mataram ini mengatakan asosiasi cabai tak mengetahui kemana cabai tersebut dikirim ke luar negeri setelah mereka kirim ke Batam. Untuk itu, ia berjanji akan membantu para pengusaha cabai agar mengekspor dari NTB.

‘’Tapi kalau untuk ke Batam saya tak akan bantu. Kami akan berhubungan dengan Kemendag. Ini jangka pendek, sebelum industri olahan dibangun pemerintah,’’ katanya. (nas)