Ziarah ke Tiga Persemayaman Terakhir Pejuang Agama di Mataram

Mataram (Suara NTB) – Kota Mataram memang tidak terlalu populer sebagai destinasi wisata di Pulau Lombok. Kota ini hanya kerap dijadikan persinggahan para pelancong yang akan berkunjung ke berbagai destinasi wisata di Pulau Lombok. Meski tak memiliki objek wisata yang sepopuler Gili Trawangan di Lombok Utara atau Senggigi di Lombok Barat, tapi Kota Mataram cukup populer dengan objek wisata religinya. Pada momen-momen tertentu, seperti hari besar Islam, objek wisata religi ini selalu dipenuhi para peziarah yang datang dari berbagai tempat di Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, bahkan Pulau Jawa.

Ada beberapa makam yang cukup populer yaitu Loang Baloq di Sekarbela dan Makam Bintaro di Ampenan. Tapi baru-baru ini, Pemkot Mataram melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Mataram mulai menata beberapa objek wisata religi baru, tempat persemayaman terakhir para tokoh agama Kota Mataram. Tiga makam yang dimasukkan dalam daftar objek wisata religi di Kota Mataram yaitu Makam Sunan Sudar di Monjok, Makam Titi Gangsa di Sayang-Sayang, dan makam salah satu tokoh agama di Seganteng, Cakranegara Selatan.

Iklan

1. Makam Al-Kaff di Seganteng
Makam salah satu tokoh agama keturunan Hadramaut, Yaman ini bermarga Al-Kaff. Makam ini berada di kompleks Masjid Qubbatul Islam, Seganteng, Kelurahan Cakranegara Selatan. Menurut Alwi, yang masih memiliki garis keturunan dengan tokoh tersebut mengatakan makam tersebut telah berusia sekitar 70 tahun. Al-Kaff adalah salah satu tokoh yang mensyiarkan agama Islam di Kota Mataram.

Makam Al Kaff di Seganteng

“Dulu beliau tinggal di Ampenan dan kemudian warga meminta beliau pindah ke Seganteng, diberi rumah oleh warga dan sampai meninggal di Seganteng,” jelasnya kepada Suara NTB belum lama ini.

  Hengkang dari Demokrat, Djohan Sjamsu Pimpin PKB Lombok Utara

Makam ini ramai didatangi para peziarah pada saat Idul Fitri. Apalagi tiga hari setelah Idul Fitri, peziarah sangat ramai karena berbarengan dengan peringatan haul sang tokoh tersebut. “Sebelum puasa dan pada saat Lebaran Topat juga banyak yang datang berziarah,” ujarnya. Bahkan disampaikan Alwi, para peziarah tidak hanya warga Kota Mataram, tapi juga dari Lombok Timur, Lombok Utara, dan Jawa Timur. “Pernah juga ada yang datang satu bus dari Jawa Timur waktu itu malam-malam. Saya ndak tahu dapat informasi dari mana tentang makam ini,” ujarnya.

Namun sayangnya, makam yang berada di halaman belakang masjid ini nampak tak terurus. Banyak rumput perdu yang tumbuh di sekelilingnya dan makam sang tokoh pun tak nampak karena terhalangi perdu yang tumbuh tinggi. Alwi mengatakan pihaknya hanya membersihkan makam tersebut sekali dalam setahun.

Ia pun berharap tidak hanya ditetapkan sebagai objek wisata religi oleh Pemkot Mataram, tapi juga diberikan perhatian dengan menatanya. Alwi mengatakan Disbudpar Kota Mataram beberapa waktu lalu telah memasang plang petunjuk, melakukan penembokan, dan memasang gerbang di bagian belakang. “Sempat diwacanakan akan dipasang paving block tapi sampai sekarang belum,” tandasnya.

2. Makam Sunan Sudar
Sunan Sudar dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam di Lombok atau Mataram. Kini tempat persemayamannya yang terakhir berada di areal belakang sebuah langgar kecil di Lingkungan Monjok Kebon Jaya Barat, Kelurahan Monjok, Kecamatan Selaparang.

Langgar Kecil dimana Makam Sunan Sudar berada

Jika ingin berziarah ke makam ini, di Jalan Bung Hatta yang menuju ke Rembiga dipasang sebuah papan petunjuk oleh Disbudpar Kota Mataram. Letak makam ini berada di dalam sebuah gang, dan tidak ada petunjuk selanjutnya yang dipasang sehingga para peziarah harus bertanya ke warga sekitar.

  Wisata Ekstrem di Hulu Sungai Jangkok

Juru kunci makam, Ratinah mengatakan kepada Suara NTB makam Sunan Sudar telah berusia ratusan tahun. Ia mengatakan tak mengetahui sejarah atau asal usul Sunan Sudar secara lengkap, ia hanya tahu bahwa Sunan Sudar adalah salah satu tokoh agama yang berjasa menyiarkan Islam di Pulau Lombok.

Ia mengatakan makam tersebut kerap ramai dikunjungi pada saat hari-hari besar Islam seperti sebelum Ramadhan, pada saat Idul Fitri, Idul Adha, dan musim haji. “Dari Jawa juga banyak yang datang,” ujar pria sepuh ini. Ratinah mengatakan ia yang selalu membersihkan dan memelihara makam berikut juga langgar yang ada di lingkungan tersebut. Namun sejak ia sering sakit-sakitan, beberapa waktu belakangan ini ia jarang ke langgar.

3. Makam Titi Gangsa
Makam ini berada di dekat kawasan persawahan di sekitar lingkar utara, Sayang-Sayang. Di pinggir jalan, terdapat papan petunjuk lokasi makam ini. Dari pinggir jalan besar, peziarah harus masuk melalui jalan kecil menuju kompleks makam yang berada di ujung jalan. Beberapa bagian jalan kecil ini telah dipasangi paving block, tapi sebagian juga rusak sehingga pengendara harus lebih hati-hati.

Jalan setapak menuju makam Titi Gangsa

Makam Titi Gangsa terlihat lebih mencolok dibandingkan beberapa makam di sekitarnya. Ada bangunan khusus dengan pagar yang membedakannya dengan makam-makam lainnya di kompleks itu. Menurut Kepala Disbudpar Kota Mataram, H. Abdul Latif Nadjib, MM, Titi Gangsa adalah salah satu pejuang yang berjasa membela rakyat pada masa penjajahan dulu. (ynt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here