‘’Zero Waste’’, Program Besar Menggugah Kesadaran Masyarakat

Aisyah Odis dan kerajinan berbahan baku limbah yang dinisiasinya. (Suara NTB/bul)

AISYAH Odis, pegiat bank sampah sejak tahun 2011 lalu, sekaligus pendiri Bank Sampah NTB Mandiri memandang masih perlunya pemerintah daerah bersama para pihak terkait untuk lebih massif memasyarakatkan Program Zero Waste (nol sampah) yang sudah dicanangkan oleh Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah.

Zero waste menurunya program besar. Tidak semua daerah siap melakukannya. Dan butuh waktu yang tidak singkat, bahkan di Jepang sendiri, kedisiplinan warga Negari Sakura terbentuk dalam proses panjang, 35 tahun lamanya sedisiplin saat ini.

Iklan

‘’Sudah tiga tahun program ini berjalan, cukup? Mungkin belum,’’ ujar Aisyah. Gerakan masyarakat sudah mulai bagus. Namun zero waste masih parsial. Pemerintah daerah juga sudah membuat sistem, dengan diinisiasinya program turunan satu desa satu bank sampah. Ada lagi gerakan bebas sampah dimulai dari rumah tangga. Dengan pilah-pilah sampah dari rumah. Itupun harus didukung sarana prasarana pendukung yang memadai.

‘’Zero waste ini so far, so good. Masih perlu sosialisasi massif dan menyentuh sampai rumah tangga,” ujarnya.

Kampanye zero waste dengan pilah pilah sampah dari rumah, lanjut Aisyah, tentu harus disiapkan bak sampah terpisah. Mana sampah organik, mana non organik. Harus ada petugas juga yang door to door ke rumah-rumah. Didukung sosialisasi terus menerus sampai ditingkat bawah.

Karena itu, menurutnya program zero waste tidak bisa dilaksanakan dengan pendekatan politis. Artinya, program dilaksanakan hanya dalam kurun waktu tertetu pemerintahan. Membangun kesadaran masyarakat harus massif dilakukan dari semua aspek. Pendidikan, sosial budaya, dan sebegainya.

“Bicara politik, biacanya target-target setiap tahun. Kejar target. Sementara zero waste ini adalah menyadarkan masyarakat untuk menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup. Tidak bisa singkat programnya,” jelas Aisyah.

Program zero waste ini diakuinya cukup bagus. Dibanding sebelum adanya program. Tidak ada gerakan menangani sampah. Bahkan ketika meminta bantuan kepada pemerintah untuk menangani sampah, Aisyah mengatakan ‘’dipimpong’’.

“Kalau sekarang sudah ada yang tangani langsung ketika ada tumpukan sampah. Ini bagusnya ketika program sudah masuk di pemerintah. Sudah ada instruksi untuk semua,” imbuhnya.

Dari program ini, sudah lahir cukup banyak bank sampah. Di tempatnya sendiri, Bank Sampah NTB Mandiri sebagai mitra pemerintah daerah, sudah terjalin kemitraan yang baik. Terutama dalam hal gerakan edukasi masyarakat memanfaatkan sampah sebagai berkah.

Sampah-sampah plastik diolah menjadi aneka hasil karya seni bernilai jual. Misalnya, membuat tas dari sampah plastik. Membuat tikar dari sampah plastic dan beragam jenis hasil kerajinan turunan sampah.

Bahan baku sampah yang digunakan, dibelinya dari masyarakat dengan sistem tabung sampah. Dalam jumlah tertentu, masyarakat dapat mengklaim tabungan sampahnya menjadi rupiah. Hasil kerajinan dari sampah, dijualnya kepada wisatawan domestik maupun internasional. Bahkan untuk wisatawan luar negeri, produk turunan dari sampah sangat dihargai. Dibanding sampah dibuang sembarangan dan dapat mencemari lingkungan.

Karena itu, masukkannya, gerakan zero waste harus dilakukan lebih massif. Sistemnya harus dibuat konsisten. Jika sistemnya pilih pilih sampah dari rumah, harus dilakukan memadai dengan sarana dan prasarana pendukungnya. Tidak cukup hanya dengan memilah, masyarakat harus diajak mengolah sampah. Sehingga tidak selalu sampah bermuara di Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Dan tak kalah penting konsisten dilaksanakan.(bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional