Zainal Asikin Sindir Kebijakan “Impor” Khatib dari Luar Daerah

Mataram (suarantb.com) – Akademisi Universitas Mataram, Prof. Zainal Asikin, menyoroti keputusan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) yang mendatangkan khatib dari UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada Shalat Idul Adha 1437 H di Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center, Senin, 12 September 2016.

Seperti diketahui, pelaksanaan Shalat Idul Adha bagi Pemprov NTB tahun ini cukup istimewa. Sebab, untuk kali pertama Shalat Idul Adha digelar di Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center, yang langsung diresmikan penggunaannya usai shalat.
Shalat dipimpin oleh Imam, Ustad H. Abdul Aziz Bin Agil. Sementara, Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, KH. Dr. Abdul Malik Madaniy, MA bertindak selaku khatib.

Iklan

Namun, pemilihan khatib asal UIN Sunan Kalijaga ini rupanya cukup menarik perhatian sejumlah pihak. Melalui akun Facebooknya, akademisi Unram, Prof. Zainal Asikin  secara khusus mengomentari pemilihan khatib ini. Status yang menyoroti persoalan ini ia buat dengan judul mencolok, yaitu “IMPOR KHOTIB”.

Ia kemudian mendeskripsikan dialog antara dirinya dengan seorang kawannya.

“Sepulang dari Sholat Iedul Adha di Islamic Centre….temen saya nanya,   Prof…kenapa Khotib tadi didatangkan dari Surabaya…..? Apakah tidak ada orang NTB bisa jadi KHOTIB….,bukankah IAIN Mataram banyak profesor….doktor ?  Bukankah pondok Pesantren di Lombok ini sungguh sungguh banyak memiliki alumni yang hebat?”

Usai menuliskan pertanyaan kawannya tersebut, Zainal Asikin pun mengaku ia tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ia menuliskan, “Saya hanya diam………Karena diam adalah emas…Daripada saya berkomentar dikira mengkritik……….sekarang ini zaman Orde Baru kambuh kembali….mengkritik itu “haram”  dan anda bisa dilaporkan…..Wasaalam.”

Status Zainal Asikin tersebut menuai cukup banyak komentar dan reaksi dari pengguna facebook lainnya. Hingga berita ini ditulis, status tersebut sudah mendapatkan  62 suka dari pengguna facebook dengan 28 komentar yang menyertainya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Pengurus Takmir Masjid Raya At Taqwa, TGH. Mahalli Fikri menegaskan bahwa keputusan untuk mendatangkan khatib dari UIN Sunan Kalijaga tersebut dilatarbelakangi pemikiran untuk memperluas silaturahmi dengan ulama dari daerah lain. Hal ini, menurut Mahalli merupakan hal yang wajar dalam berbagai kegiatan yang digelar umat Islam.

Ia juga menegaskan hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan ada atau tidaknya ulama yang layak untuk menjadi khatib di shalat Idul Adha. Menurutnya, dalam berbagai kegiatan serupa di daerah lain pun, seringkali ulama asal NTB juga diundang untuk menyampaikan khutbah atau kajian agama.

“Seperti halnya orang jakarta kadang2 mengundang ulama dari sini. Masjid di sana juga mengundang Tuan guru dari Lombok juga. Hal-hal seperti itu tidak terlalu pentinglah kita persoalkan,” ujar Mahalli. (aan)