WWF Soroti Zona Pemanfaatan untuk Wisata Glamping Rinjani

Ridha Hakim (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Wisata glamor camping (glamping) yang diwacanakan di Segara Anak, Gunung Rinjani masih dalam proses pembahasan. Sementara aktivis lingkungan menyoroti soal rencana investasi di zona pemanfaatan sekitar Danau Segara Anak.

Dalam  tujuh poin masukan yang disampaikan World Wildlife Fund for Nature (WWF). Diantaranya, membahas soal zona pemanfaatan yang akan jadi dudukan penginapan dengan konsep glamping. Ini jadi sorotan karena sepengetahuan pihak WWF, sekitar Danau Segara Anak masuk kawasan zona inti.

Iklan

Lesser Sunda & Banda Seascape Manager WWF-Indonesia, Muhammad Ridha Hakim dalam keterangan tertulis yang diterima Suara NTB Jumat, 28 Februari 2020 kemarin mengatakan, kalau pun masuk zona pemanfaatan, disarankan harus dikaji lebih mendalam. Karena pengelolaannya pun akan terbatas.  ‘’Kata ‘terbatas’ tersebut, apalagi pada zona yang berdekatan dengan zona inti TNGR (sekitar Danau Segara Anak), mengisyaratkan banyak hal yang perlu dibatasi,’’ jelas Ridha.

Zona pemanfaatan TNGR menurutnya, harus dilihat dalam Renstra, bagaimana pengelolaan pariwisata kawasan tersebut, kesesuaian dengan rencana yang sedang berkembang atau sebaliknya.  Sebab menurut dia, hingga saat ini peta zonasi terbaru tersebut belum dipublikasikan. ‘’Saya sudah mengecek melalui web TNGR, justru yang ada adalah Zonasi TNGR yang lama,’’ katanya.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.76/Menlhk-Setjen/2015  tentang kriteria zona pengelolaan taman nasional dan blok cagar alam diatur bahwa zona pemanfaatan adalah bagian dari Taman Nasional (TN) yang ditetapkan karena letak, kondisi dan potensi alamnya yang dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan kondisi lingkungan lainnya.

Apa saja kriteria zona pemanfaatan? Menurut Ridha, penting dijelaskan lebih detail, yakni meliputi  wilayah yang memiliki keindahan alam atau daya tarik alam atau nilai sejarah dan/atau wilayah dengan aksesibilitas yang mampu mendukung aktivitas pemanfaatan.

Sementara kegiatan yang dilakukan di zona pemanfaatan TN,  meliputi perlindungan dan pengamanan,  inventarisasi dan monitoring sumber daya alam hayati dengan ekosistemnya. Pembinaan habitat dan populasi dalam rangka mempertahankan keberadaan populasi satwa liar hingga penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Selain soal zonasi, pihaknya memberi masukan agar investor mempertimbangkan dari sisi ekologi dan daya dukung Rinjani sebagai kawasan konservasi.

Hal lain disampaikan lembaga pemerhati lingkungan internasional tersebut, agar jadi pertimbangan investor PT. Rinjani Glamping Indonesia ke Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), sebagai pertimbangan sebelum memberi ruang investasi.

 Pertama, TNGR adalah taman nasional yang sangat cocok untuk dijadikan wahana wisata alam bagi yang menyukai tantangan,  memiliki daya tarik tertinggi dari objek kaldera dan Danau Segara Anak dengan anak gunungnya yang sangat menakjubkan.

‘’Meskipun demikian, konservasi sangat penting dilakukan di wilayah TNGR karena wilayah ini berpotensi memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi mengingat wilayah ini berada di sebelah barat Garis Wallace,’’ kata Ridha Hakim.

Berdasarkan data tahun 2019 menunjukan bahwa, 12.639 wisatawan mancanegara dan 4.532 wisatawan lokal telah mendaki di TNGR.  Tingginya minat wisatawan mancanegara dan lokal mendaki TNGR juga ditunjukan hasil penelitian WWF tahun 2017. Hasilnya menunjukan, bahwa pendakian Gunung Rinjani merupakan tujuan dan pilihan kedua selama berkunjung ke Pulau Lombok.

‘’Rinjani sudah sangat terkenal, jadi kalau dinyatakan oleh investor bahwa dengan caranya akan mengenalkan Rinjani ke dunia luar, saya kira keliru.  Siapa yang tidak kenal Rinjani,” tanyanya.

Kedua, adanya  kegiatan  kepariwisataan alam  yang  sangat  mengandalkan  kualitas  sumber daya   alam,   menyebabkan   perlu   ditetapkan  suatu kriteria atau kesesuaian dalam pengelolaan pengembangan  fasilitas  ekowisata  yang  memadai.  Sehingga  nantinya  dapat  diketahui  keberadaan  dan berbagai   paradigma   yang   berkembang   di   daerah tersebut. Ini menjadi    bahan   dasar     dalam menentukan arah pembangunan berkelanjutan.  ‘’Menjadi sangat penting untuk memperhatikan daya dukung dan daya tampungnya.   Saat ini berapa daya tampung dan daya dukung lingkungan di sekitar kawasan tersebut,’’ tanyanya lagi.

Ditambahkannya, pengembangan pariwisata alam di taman nasional sesuai pedoman yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam nomor : P.3/IV-SET/2011 ditetapkan di zona pemanfaatan. Desain tapak diperlukan dalam tahapan perencanaan pariwisata alam untuk menentukan zona pemanfaatan taman nasional akan diperuntukkan untuk ruang publik atau ruang usaha.

Ketiga, ditekankannya, agar hati-hati dalam memberikan ijin pemanfaatan dengan menggunakan fasilitas helikopter dan lainnya di zona pemanfaatan yang notabene berada di bibir Danau Segara Anak.

Sebab pendaratan helikopter perlu memperhatikan struktur tanah di sekitar danau  dan aturan yang berlaku. Yaitu,  Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP40, Tahun 2015, tentang Standar Teknis dan Operasi Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil – Bagian 139 Volume II Tempat Pendaratan dan Lepas Landas Helikopter.

‘’Sewaktu proses evakuasi karena gempa bumi tahun 2018, pendaratan dilakukan dengan pertimbangan emergency.  Sehingga harus dibedakan dengan situasi normal,’’ ungkapnya mencontohkan.

 Keempat, masyarakat lokal yang bermukim di lokasi wisata menjadi salah satu pemain kunci dalam pariwisata. Karena masyarakat lokal yang akan menyediakan sebagian besar atraksi sekaligus menentukan kualitas produk wisata. Sumber daya wisata berupa air, tanah, hutan dan lanskap yang dinikmati oleh wisatawan dan pelaku wisata lainnya berada di tangan masyarakat lokal.

Kesenian dan keunikan budaya lainnya yang menjadi salah satu daya tarik wisata juga sepenuhnya berada pada masyarakat lokal. ‘Oleh sebab itu, berbagai perubahan yang terjadi di lokasi wisata akan bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat lokal. Penerimaan dan persepsi positif dari masyarakat lokal terhadap kegiatan wisata menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan wisata alam Zona Pemanfaatan TNGR,’’ jelasnya.

Setidaknya ada tiga rekomendasi disampaikan WWF sebagai rujukan rencana dua jenis investasi ini.  Pertama, kegiatan wisata alam kawasan zona pemanfaatan TNGR akan dapat berkelanjutan apabila para wisatawan dan penyedia jasa wisata memperhatikan kegiatan – kegiatan yang mendukung pada seluruh dimensi pariwisata berkelanjutan, yaitu ekonomi, ekologi, sosial, dan budaya.

Dua, perlu lebih memperkuat argumentasi dan alasan sebelum memberikan rekomendasi lebih jauh, dengan tingginya minat kunjungan pada tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya.  ‘’Saran kami adalah perlu adanya penelitian di zona pemanfaatan TNGR dengan tujuan untuk  mengetahui jenis dampak terhadap lingkungan khususnya terhadap flora dan fauna, serta bagaimana persepsi wisatawan tentang kesesuaian fasilitas dan nilai penting fasilitas ekowisata tersebut,’’ sarannya.

Ketiga, TNGR dan pemerintah harus memiliki kajian  strategis dalam rangka mengkaji kelayakan kebijakan, rencana  atau program pembangunan di sebuah wilayah dalam kerangka prinsip pembangunan berkelanjutan.

Kepala Balai TNGR Dedy Ashriady sebelumnya menegaskan,  lahan seluas sekitar empat hektar yang akan dimanfaatkan untuk berdirinya glamping, dipastikan ada di luar kawasan atau zona inti. “Kawasan yang diajukan itu  masuk zona pemanfaatan,” jawabnya.  (ars)