Wujud Toleransi, ‘’Pecalang’’ Ikut Sukseskan MTQ

Mataram (Suara NTB) – Sebagai bentuk solidaritas antarumat beragama, selama pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-26 di NTB, barisan pecalang (tenaga pengaman di komunitas Hindu) ikut ambil bagian untuk mensukseskannya. Tidak saja partisipasi pengamanan secara langsung, pecalang pun langsung turun ke lapangan menertibkan penjualan  miras (minuman keras) tradisional.

Mendukung suksesnya MTQ di Mataram, regu pecalang mulai berperan aktif sejak beberapa waktu lalu menjelang MTQ. Begitu juga saat dilaksanakan pawai taaruf, Jumat 29 Juli 2016 kemarin, puluhan pecalang ditempatkan di beberapa titik sepanjang rute pawai.

Iklan

‘’Kami terlibat langsung karena kami menganggap inilah bentuk kebersamaan dan toleransi  kita. Bentuk keberagaman kita untuk saling menghormati,’’ ujar Koordinator Lapangan Pecalang Dharma Wisesa, Dewa Komang Supartha di sela-sela pengamanan pawai taaruf.

Tidak saja pada kegiatan besar seperti saat ini. Untuk kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya, pecalang tetap terlibat langsung untuk pengamanan. Selain sebagai bentuk partisipasi, saling menghargai antarumat, ada permintaan langsung dari Wakil Walikota Mataram, H.Mohan Roliskana agar pecalang tetap diterjunkan.

Selama MTQ, Supartha mengatakan tetap berupaya meminimalisir berbagai kemungkinan yang menggangu ketertiban dan kenyamanan. Termasuk untuk kafilah dari berbagai daerah asal, pecalang memfasilitasi penunjukan tempat-tempat penginapan yang tersedia.

‘’Saat kafilah datang, kami mengantarkan langsung ke hotel-hotel yang masih tersedia,’’ terangnya. Ditanya soal minuman keras tradisional, Supartha mengatakan, tetap memberikan imbauan kepada pedagang untuk tertib penjualan. Meski menurutnya, miras tradional bukanlah sumber utama pemicu konflik sosial.

Ia juga meminta kepada pemerintah daerah, agar melahirkan regulasi khusus untuk mengurangi penjulan miras tradisional. Pecalang selanjutnya ikut melakukan pengawasan kebijakan tersebut.

Ia juga menawarkan alternatif agar pemerintah daerah menyiapkan program pemberdayaan kepada pedagang miras tradisional. ‘’Kalau memangkasnya langsung untuk tidak menjual lagi (miras tradisional), sepertinya berat. Mungkin harus diarahkan secara perlahan agar diberdayakan untuk usaha-usaha tertentu,’’ harap Supartha. (bul)

  Gubernur Ungkap Daerah Asal Dua Tambahan Penderita Covid-19 di NTB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here