Wujud Industrialisasi NTB Bukan Pabrik Besar

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Andi Pramaria (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Provinsi NTB tengah merancang dan memulai program besar industrialisasi oleh gubernur dan wakil gubernur, Dr. H. Zulkieflimansyah – Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah. Program yang dicanangkan oleh pemimpin baru daerah ini untuk meningkatkan nilai tambah bagi seluruh komoditas sumber daya yang dihasilkan di dalam daerah. Sehingga,  memberikan kesejahteraan yang lebih besar kepada masyarakat.

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Ir. Andi Pramaria menjelaskan, keadaan industri NTB, sampai awal 2019, masih banyak yang termasuk katagori industri kecil. Indikatornya adalah, jumlah karyawan yang bekerja masih di bawah 19 orang dan investasi masih di bawah Rp1 miliar.

Iklan

Usaha yang dikembangkan juga masih menggunakan teknologi tradisional. Sehingga masih mempunyai produktivitas kerja yang terbatas. Disamping itu, jenis industri yang berkembang juga masih sangat terbatas. Yaitu, produk makanan olahan, tenun, kerajinan dan lainnya. Sedangkan industri menengah dengan investasi di atas Rp1 miliar dan tenaga kerja di atas 19 orang masih sangat sedikit.

Industri Kecil dan Menengah (IKM), masih mempunyai pasar lokal dan hanya sedikit yang menembus pasar ekspor. IKM masih banyak menghadapi kendala. Antara lain, modal usaha, keterampilan, sarana dan prasarana, akses pasar, teknologi dan lain-lain.

Kata Andi, keterbatasan modal, dapat diatasi dengan pinjaman KUR yang saat ini dapat mencapai Rp50 juta tanpa agunan. Sementara keterampilan akan terus diupayakan dengan memberikan pelatihan, pembinaan, bimbingan teknis, guna meningkatkan kapasitas sumber daya manusia IKM. Bantuan peralatan juga akan diupayakan secara bertahap dalam skala kelompok. Sedangkan teknologi akan diberikan pada pelatihan dan bimtek termasuk pengembangannya.

Akses pasar kata Andi, akan dilakukan dengan mengembangkan aplikasi pemasaran berbasis internet atau dengan kerjasama berbagai pihak. Terutama pelaku bisnis pariwisata. Berkembangnya IKM sampai tahun 2018, diperkirakan mencapai 83.000 unit, dengan tenaga kerja mencapai 200.000 orang, baik dalam bentuk kelompok ataupun skala rumah tangga.

Kegiatan industri sampai tahun 2019,  menurutnya masih difokuskan pada pengembangan IKM yang bergerak pada olahan makanan, kerajinan, sandang dan lain-lain. Untuk itu, IKM yang sudah ada akan terus dibina dan ditingkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam bidang teknis dan manajemen, dengan tujuan  meningkatkan kapasitas SDM secara teknis, dan  meningkatkan pengelolaan usaha.

Data Dinas Perindustrian menyatakan masih banyak komoditas yang belum diolah. Sehingga, PDRB sektor industri pengolahan baru mencapai 4,44%. Masih banyak komoditas unggulan yang berasal dari NTB diperdagangkan dalam bentuk barang primer.  Komoditas jagung, kacang, kedele, pisang, coklat, vanilli, dan lain-lain, katanya, hanya sedikit yang sudah diolah dan dalam skala industri kecil, sisanya diperdagangkan dalam bentuk barang primer.

“Jika saja 50% produk pertanian bisa diolah melalui industri pengolahan dan diperoleh nilai antara (nilai tambah) 30% maka sumbangan sektor industri terhadap PDRB akan naik 3,3%,” katanya.

Industrialisasi yang diprogramkan NTB berarti segala produk primer yang dihasilkan dari wilayah provinsi ini diupayakan untuk diolah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang siap dikonsumsi (digunakan).

Upaya ini menurutnya sudah barang tentu tidak mudah, karena untuk menghadirkan industri pengolahan diperlukan beberapa persyaratan. Antara lain ketersediaan bahan baku, menyangkut sebaran dan volume. Persoalan utama bahan baku terletak pada 3K  yaitu, kuantitas, kualitas dan kontinyuitas.

Industrialisasi NTB, lanjut Andi, tidaklah harus mendatangkan industri dalam bentuk pabrik-pabrik besar. Tetapi yang terpenting adalah melakukan pengolahan barang primer sehingga diperoleh nilai tambah (added value). Berkenaan dengan hal ini, Dinas Perindustrian mencoba terus membina dan mengembangkan IKM serta terus berusaha menumbuhkan IKM melalui pelatihan, pembinaan, dan bantuan-bantuan guna menumbuhkan wirausaha baru.

Industri yang akan dikembangkan di NTB tidak harus pada industri skala besar. Beda halnya dengan jagung,  komoditas yang sangat potensial untuk diolah dalam skala industri besar. Produksi jagung di NTB tahun 2017, tercatat mencapai 2,1 juta ton. Banyak produk turunan yang berbahan baku jagung, namun yang paling memungkinkan adalah pengolahan pakan ternak.

Yang dilakukan untuk industrialiasi ini menurutnya, tinggal mendatangkan industri pengolahan pakan ternak di daerah atau memberikan pelatihan kepada kelompok masyarakat untuk mengolah pakan ternak guna memenuhi kebutuhan sendiri.

Kedua pilihan tersebut akan dijalankan yaitu dengan mengundang pelaku industri pengolahan pakan ternak yang berbasis jagung dan  mendorong masyarakat untuk melakukan pengolahan pakan ternak dengan fasilitasi Dinas Perindustrian (pelatihan, bimtek, dan bantuan alat).

Disamping Jagung, di NTB juga mempunyai produk-produk primer potensial yang dapat diolah. Antara lain kopi dengan banyak keterkaitan geografis (tambora, tepal, rinjani), madu sumbawa yang sudah sangat terkenal, kakao dan vanilli yang sempat booming beberapa tahun lalu dan lain-lain.

Garam yang diusahakan masyarakat Bima dan Lombok Timur Selatan, memungkinkan untuk ditingkatkan sehingga dapat menjadi andalan nasional. Untuk itu, pengembangan industri akan diarahkan pada potensi sumber daya lokal melalui pengolahan bahan baku (barang primer) yang menjadi produk lokal NTB. Sehingga diperoleh nilai tambah atas barang yang dihasilkan, penyerapan tenaga kerja yang lebih luas dan lapangan usaha.

Rencana pengembangan industri di NTB menekankan pada produk-produk NTB yang potensial. Meliputi, industri hulu agro, terdiri dari pengolahan kelapa, kopi, dan kakao. Industri Pengolahan Hasil perikanan dan laut. Industri berbasis Pijar (Sapi, Jagung dan Rumput Laut) Industri Air Minum dalam Kemasan. Industri Garam (Garam Industri dan Garam Beryodium).

Industri Aneka (Industri alas kaki, tas dan Penyamakan Kulit), Industri Kreatif (Kerajinan, kreatif sandang, animasi, periklanan, dll). Industri Logam Mesin (Perbengkelan, alat pertanian, logam non ferro). Industri bahan bangunan berbasis semen strategi dalam pelaksanaan pengembangan industri tersebut, dilakukan melalui kerjasama para pihak yang bertujuan untuk menggalang komitmen bersama.

“Kerjasama akan terus dilakukan dengan instansi pemerintah, perguruan tinggi, swasta, koperasi dan masyarakat. Melalui kerjasama yang kuat dengan semangat yang sama maka dimungkinkan adanya integrasi dan sinkronisasi program,” imbuhnya.

Industrialisasi NTB, tambah Andi,  jangan hanya dimaknai sebagai banyaknya pabrik-pabrik industri besar yang beroperasi di wilayah NTB tetapi harus dimaknai sebagai upaya pengolahan produk produk NTB guna meningkatkan nilai tambah dan mengembangkan peluang berusaha. (bul)