Wisuda 133 Santri, Ponpes Al Kausar Ingin Siapkan Generasi Islami yang Kuat

Dompu (Suara NTB) – Pondok Pesantren (Ponpes) Al Kausar Ranggo Dompu mewisuda 133 santri lulusan RA, MI, dan MTs tahun 2018. Pondok yang didirikan karena terinspirasi mewujudkan generasi Islami, tidak hanya dikembangkan pendidikan umum tapi juga pendidikan Islam dan melatih kemandirianya.

Keberadaan ponpes Al Kausar ini mendapat apresiasi dari pimpinan Ponpes Walisongo Jawa Timur, KH Heru Syaiful Anwar, LC, MA yang ikut menyaksikan proses wisuda para santri di komplek ponpes Al Kausar Desa Ranggo Kecamatan Pajo Dompu, Senin, 14 Mei 2018.

Iklan

Selain pimpinan ponpes Walisongo, Kepala Kemenag Kabupaten Dompu, Drs H Syamsul Ilyas, MSI juga memberikan apresiasi terhadap hasil binaan pondok Al Kausar dalam menyiapkan generasi muda yang isalami.

Ketua Ponpes Al Kausar Ranggo, Drs H Asikin Ahmad yang memimpin prosesi wisuda dalam sambutannya mengungkapkan, upayanya mendirinya ponpes Al Kausar bersama masyarakat didorong oleh kehidupan masyarakat di tengah kampung yang banyak tidak mengamalkan ajaran agama karena sibuk bercocok tanam. Kondisi ini dikhawatirkan akan membahayakan generasi muda.

Ketua Ponpes Al Kausar Ranggo Dompu, Drs H Asikin Ahmad didampingi Direktris Pondok Putri, Irma Suryani, S.Ag mengukuhkan santri yang diwisuda.

“Kami ingin memutus satu generasi, sehingga kedepannya menjadi generasi Islam,” kata H Asikin yang saat itu menjabat sebagai Camat.

Karenanya, pendidikan yang diajarkan, tidak hanya pendidikan umum, tapi juga pendidikan agama. Karena visi ponpes Al Kausar, membentuk generasi muda Islami dengan nilai – nilai Islam dan mendiri, dan diharapkan menjadi warga negara yang taat dalam bingkai NKRI.

Karenanya, sebelum pondok ini didirikan anak – anak serta keluarga dari Pondok Al Kausar dipondokan di Pondok Pesantren Walisongo, Gontor dan pondok Al Amin Madura Jawa Timur. Dewan guru dan ustaznya pun banyak didatangkan dari pondok – pondok tersebut sebagai pembina di Ponpes Al Kausar.

“Kita berharap hubungan bathin dan silaturrahmi yang sudah terjalin selama ini dapat terus dipertahankan. Ustaz – ustazah yunior dari Pondok Wali Songo kami berharap dapat dikirim ke pondok Al Kausar sebagai pembina,” kata H Asikin Ahmad.

Pimpinan Ponpes Walisongo Jawa Timur, KH Heru Syaiful Anwar, LC, MA dalam pidatonya menyampaikan apresiasinya terhadap jajaran ponpes Al Kausar Dompu. Ia pun mengaku sejak mendengar ponpes Al Kausar tahun 2000 lalu dirinya ingin sekali berkunjung. Terlebih pondok ini dibina oleh para alumni ponpes Walisongo.

Ia pun mengungkapkan, sebuah negara maju bila swastanya maju. Di Jepang, kekuatannya ada pada swasta seperti Toyota, Mitsubisi, Honda dan semua swasta memiliki lembaga pendidikan luar biasa. “Ini yang membesarkan Jepang,” terangnya.

Di Indonesia, swasta terutama pesantren merupakan awal gerakan perubahan dan kemerdekaan. Karena jiwa saling tolong menolong, ukhwah islamiah dan lainnya dibangun di pesantren. Karena di pesantren itu, prinsipnya memperjuangkan.

“Pesantren itu bukan profit, bukan untuk mencari duit. Kalau cari duit, buka toko. Kalau cari duit, cari lahan yang luas tanami jagung. Kalau ponpes arahnya cari duit, tunggu bubarnya. Sudah banyak ponpes bubar karena tujuannya cari duit. Karena prinsip islam itu, memberi. Prinsip islam itu bekerja, berbuat. Di pesantren itu, memperjuangkan. Membangun kader bangsa, membangun kader umat,” katanya.

Selain itu, di pesantren dalam mendidik santrinya difokuskan pada pembangunan jiwa, arah dan tujuan. Pembangunan jiwa terkait keikhlasan, kesederhanaan, ukhwah islamiah, kebebasan, dan mandiri. Untuk pembangunan arah dan tujuan, terkait ketaqwaan kepada Allah, amal shaleh, berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, cinta tanah air, berwiraswasta, dan berpikiran bebas.

Sebelumnya, kepala Kementerian Agama Kabupaten Dompu, Drs H Syamsul H Ilyas, MSI juga memberikan apresiasinya terhadap Ponpes Al Kausar yang terus berbenah dari tahun ke tahun dalam kebaikan mutu pendidikan.

“Kehebatannya (lulusan ponpes Al Kausar), dia bisa menghafal 30 juz, 20 juz, 5 juz, 1 juz. Sehingga kelihatan sekali inovasi dan peningkatan prestasi saat pelaksanaan STQ-MTQ. Terutama sekali dalam syarhil quran, fahmil quran, khatmil quran. Ini semua karena keberadaan beberapa alumni ponpes Walisongo, ponpes Gontor, ponpes Al Amin sebagai pembinanya dan meramunya menjadi kurikulum pembinaan di ponpes Al Kausar Ranggo,” katanya.

Syamsul juga mengungkapkan, Provinsi NTB termasuk dalam 10 provinsi yang madrasahnya melaksanaan ujian nasional berbasis komputer. Termasuk di dalamnya MTs Al Kausar Pajo. “Ini amat luar biasa kita bangga bersama. Di bidang prestrasi tekhnologi dan IT sudah dikuasai, kemudian memiliki hafalan Al-Quran,” katanya.

Ia pun menyampaikan, bahwa lulusan pondok yang tidak hanya cerdas dalam ilmu umum, tapi berakhlak mulai dan menguasai tekhnologi akan menjadi generasi pemimpin di masa akan datang. “Boleh berotak Jerman, boleh berotak Amerika, tapi hati tetap pada keimanan pada Allah. Artinya bisa membentengi dari tantangan yang dihadapi zaman sekarang,” harapnya. (ula/*)