Wisatawan Pertanyakan Keamanan Hotel di NTB

Heru Saptaji. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Wisatawan mempertanyakan kesiapan NTB menyambut tamu-tamunya dari luar. Mereka mempertanyakan dari sisi keamanan, terutama di hotel dan restoran. Pertanyaan para wisatawan domestik maupun internasional ini, direkam oleh Bank Indonesia melalui survei yang dilakukan rutin.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji mengatakan, wisatawan sudah mulai ingin berwisata. Ditengah kejenuhan sekian bulan dalam tekanan pandemi Covid-19. “Orang-orang menengah ke atas ini  sudah pengen leisure, pengen berwisata. Tapi mereka butuh keyakinan itu, aman gak, nyaman gak. Itu saja sebenarnya,” ungkap Heru.

Iklan

Keamanan dan kenyamanan yang dimaksud adalah jaminan dari hotel dan restoran, mereka tidak rentan tertular virus corona di tengah situasi ini. Jaminan keamanan dan kenyamanan ini tentu dibuktikan oleh sertifikat protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability). Sertifikasi CHSE merupakan hal yang sangat penting untuk industri pariwisata, khususnya bagi pelaku usaha hotel dan restoran untuk memulihkan kepercayaan wisatawan.

“Ayo kita dorong semua hotel dan restoran mengantongi sertifikat CHSE ini. agar wisatawan benar-benar merasa yakin datang berwisata ke NTB. Wisatawan selalu menanyakan, sudah berapa pak hotel di NTB yang sudah CHSE,” ujarnya. CHSE ini menurutnya menjadi penting. Berbicara mengenai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika juga harus dipenuhi ketentuan ini oleh hotel dan restoran.

Bank Indonesia akan bersama dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan stakeholders lainnya bagaimana mengembalikan suasana di KEK Mandalika menjadi lebih ramai. Promosinya harus dijual kembali. Bahwa di KEK Mandalika dapat dipastikan adaptasi kebiasaan barunya sudah diberlakukan menjadi lebih baik.

Dalam situasi ini, kata Heru Saptaji, tidak cukup mempromosikan destinasi wisata yang indah melalui foto-foto, kuliner enak, infrastruktur tersedia. Tidak cukup. Karena ada satu variable baru yang dituntut oleh wisatawan, yaitu bagaimana keamanan dan kenyamanan mereka dari dimensi penanganan Covidnya. Keberadaan KEK Mandalika, kemudian akan diselenggarakannya balap motor bergengsi di dunia, yaitu MotoGP pada tahun ini seperti yang direncanakan, menurutnya tidak cukup membahagiakan, selama seluruh elemen tidak bersatu menunjukkan kepada dunia, bahwa penanganan Covid-19 di NTB sangat aman dan terkendali.

“Orang datang dari berbagai penjuru. Kalau mereka datang membawa virus bagaimana. Inilah yang sangat perlu dipastikan kesiapan kita. Meskipun ada optimisme penanganan covid setelah vaksin dimulai. Tidak bisa kita hanya mengedepankan dimensi ekonomi, kemudian kita tidak memperhatikan dimensi kesehatan, percuma juga,” kata Heru.

Tak lupa ia mengingatkan terus menerus, mengenai kebijakan Bank Indonesia dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi di tahun 2021 dengan rumusan 1+ 5. Rumus 1 didefinisikan adalah prasyarat vaksinasi dan disiplin protokol Covid-19. Dan 5 (lima) adalah strategi pembangunan ekonomi daerah (dimensi ekonomi) meliputi (1) pembukaan sektor produktif yang aman, (2) percepatan stimulus fiskal, (3) peningkatan kredit (sisi permintaan dan penawaran), (4) stimulus moneter dan kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan (5) opitalisasi ekonomi dan keuangan, khususnya UMKM. (bul)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional