Wisata Tetebatu Impelementasikan Konsep “Living In Harmony”

0
Kawasan wisata ulem-ulem desa Tetebatu yang  berbatasan langsung dengan kawasan hutan Tanam Nasional Gunung Rinjani .(Suara NTB/rus)

Keikutsertaan Desa Tetebatu, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dalam ajang Best Tourism Village (BTV) United Nation World Tourism Organization (UNWTO) diyakini akan bisa menyabet juara. Salah satu andalan Desa Wisata pertama di Lotim itu adalah sudah implementasikan konsep living in harmony.

PELAKU wisata senior di Desa Tetebatu, Maad Adnan kepada Suara NTB mengatakan, jika yang dilombakan adalah objek wisata seperti Air Terjun, maka diyakini Tetebatu kalah saing dengan desa-desa wisata lainnya. Akan tetapi, Tetebatu memiliki kemasan berbeda. Hidup dalam keharmonisan ini sudah menjadi ciri khas masyarakat Desa Tetebatu.

IKLAN

“Artinya, kalau ada kategori living in harmony dalam penilaian UNWTO ini maka Tetebatu pasti menang,” terang Maad Adnan atau lebih akrab disapa uncle Kus. Semua wisatawan yang datang ke Tetebatu disambut penuh keakraban dan kekeluargaan. Wisatawan model apapun katanya akan mendapat penyambutan yang sama.

Masyarakat Tetebatu tidak pernah melihat latar belakang wisatawan. Tidak pernah pula melihat ras, etnik, budaya maupun alasan-alasan pembeda lainnya. Masyarakat pelaku desa wisata Tetebatu sudah membangun tolerasi dengan cukup apik. “Semua tamu yang datang kita anggap keluarga,” sebut Uncle Kus yang juga Humas Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Lotim ini.

Diketahui, salah satu konsep berwisata yang cukup favorit dan banyak diminati wisatawan ke Tetebatu adalah One Day to be Sasak people atau sehari menjadi Orang Sasak. Semua aktivitas masyarakat Sasak Tetebatu ini diikuti oleh wisatawan.  Tidak ada sekat pembeda. Semua wisatawan seperti sudah menyatu dalam satu keluarga dengan masyarakat.

Aspek lainnya menjadi keunggulan Tetebatu sebut Uncle Kus adalah, keterlibatan perempuan, tidak lagi ada pandangan buruk tokoh agama terhadap pariwisata. Tidak sedikit para ustad dan khatib di Tetebatu ini turut terjun sebagai pelaku wisata. Wisata sudah menjadi nafasnya masyarakat Tetebatu.

“Tokoh agama juga sudah menerima pariwisata, tidak ada pandangan miring terhadap pariwisata,” sebutnya lagi. Sejauh ini, kemajuan pariwisata di Tetebatu ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Masyarakat tidak menjadi penonton, tapi turut hadir dan berperan dalam sektor pariwisata.

Berikutnya yang bisa menjadi nilai tambah dari penilaian baik untuk Desa Wisata Tetebatu ini adalah, keikutsertaan masyarakat Desa Tetebatu menjaga kelestarian alam. Desa Tetebatu yang  berbatasan langsung dengan kawasan Hutan Rinjani ini tidak kemudian menjadi perusak lingkungan. Sebaliknya, turut menjaga kelestarian alam. Ratusan masyarakat Tetebatu ini ikut menjaga hutan.

“Isu global tentang menjaga kelestarian alam misalnya, msyarakat Tetebatu sudah melakukan itu. Kita ikut melakukan menjaga hutan, masyarakat ikut mengelola hutan menanam diatas lahan 200 hektar,” demikian papar Uncle Kus. (rus)