Wisata “Agroforestry”, Potensi Besar Bangkitkan Ekonomi

Mukarrahman (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Lombok Timur (Lotim) memiliki areal lahan pertanian dan perkebunan yang luas. Termasuk di dalamnya, lahan-lahan hutan yang menjadi areal tangkapan air yang selama ini belum terkelola dengan baik. Dinas Pariwisata (Dispar) Lotim mengusulkan pengembangan wisata agroforestrry. Potensi besar Lotim ini diyakini bisa membangkitkan perekonomian masyarakat.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Dinas Pariwisata Lotim, Mukarrahman menjawab Suara NTB di Selong, Selasa, 29 September 2020. Salah satu potensi tersebut berada di Tetebatu dan sekitarnya. Tidak saja Tetebatu, daerah-daerah yang menjadi areal tangkapan air juga berpotensi untuk dikembangkan, seperti lereng-lereng bukit

Iklan

Sebelum menjadi destinasi wisata baru, agroforestry ini harus diciptakan dulu dengan mengajak masyarakat sekitar untuk bertani air, yakni menanam pohon pada areal-areal tangkapan air tersebut. Pilihan pohonnya, bisa pohon produktif seperti alpukat dan lainnya. Kemudian di bawah pohon produktif tersebut menanam tanaman rimpang, seperti jahe, kunyit, laos dan jenis tanaman rimpang lainnya.

Manfaat besar yang diperoleh dengan bertani air adalah terlindungi sumber-sumber mata air yang saat ini diketahui banyak yang hilang. Lainnya, potensi ekonomi masyarakat yang bisa memanen tanaman rimpang.

Mukarrahman meyakini, menanam jahe akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan menanam padi meski usia panennya jauh lebih lama. “Jadi tidak perlu tanam padi lagi sebagai sumber ekonomi,” imbuhnya.

Tanaman seperti jahe, kunyit dan sejenisnya merupakan jenis rempah-rempah yang sedari dulu menjadi buruan. Guna mewujudkan program ini, diperlukan sinergi lintas sektoral. Mulai Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan lainnya. Hasil dari sinergisitas bersama dalam pembangunan itulah yang bisa melahirkan destinasi wisata baru. Memasuki kawasan hutan saat ini wisatawan tidak saja disuguhkan dengan fauna monyet hitam yang bergelantungan. “Wisata hutan itu tidak saja monkey forest,” ucapnya. (rus)