Wawancara Eksklusif dengan Buni Yani, Orang Lombok yang Mengunggah Video Ahok

Mataram (suarantb.com) – Buni Yani pemilik akun facebook dengan nama Buni Yani dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Kelompok Relawan Kotak Adja (Komunitas Muda Ahok Djarot). Buni Yani dituduh mengedit dan memotong video berisikan Ahok yang menyebut Surat Al-Maidah ayat 51.

Secara khusus, suarantb.com mewawancara Buni Yani melalui telepon, terkait kasus yang menimpanya. Berikut wawancara suarantb.com dengan Buni Yani, Rabu, 12 Oktober 2016.

Iklan

Bagaimana perkembangan kasus anda?
Jumat lalu saya dilaporkan ke Mabes Polri sebagai orang yang menyebarkan video itu dengan dugaan melanggar undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kemudian besok saya dapat teror di kantor. Penelepon gunakan kata-kata kasar mengancam untuk menyerbu kampus.

Kemudian hari Senin saya konsultasi dengan pengacara HAMI (Himpunan Advokat Muda Indonesia), lalu kita lapor balik ke Polda Metro Jaya. Saya laporkan balik yang melaporkan saya dengan tuduhan mencemarkan nama baik. Saya tidak merugikan siapa-siapa. Justru benar isi videonya yang mengandung unsur penistaan pada agama.

Apakah anda telah dipanggil pihak kepolisian?
Belum, mereka sedang dalami. Tadi malam pak Boy Rafli Amar sudah bilang sedang didalami.

Apakah betul anda mengedit dan memotong video Ahok tersebut?
Bukan saya pertama kali, tapi Media NKRI namanya. Tanggal 5 Oktober 2016 dia upload. Video ini yang sudah 30 detik sudah diupload olehnya. Saya sendiri mengupload sudah tanggal 6 Oktober 2016, satu hari setelah Media NKRI menguploadnya, dan itu sudah terpotong 30 detik. Saya dituduh mengedit, memotong itu tidak benar. Yang benar sudah begitu bentuknya.

Apakah dalam video tersebut mengandung unsur negatif?
Saya melihat video tersebut mengandung unsur negatif yang tidak seharusnya diucapkan oleh gubernur. Tapi tiba-tiba dia (Ahok) ngomong Al-Maidah. Padahal tidak mempunyai kemampuan. Saya mendengar ada kalimat (dalam video) dibohongi dan dibodohi, keras sekali artinya.

Relawan Ahok menuding anda ikut mendukung salah satu kandidat Gubernur DKI, benarkah?
Boleh saja menuding saya, tapi ada buktinya enggak? Saya bersimpati pada salah satu kandidat iya, semua orang punya pilihan. Tapi mendukung salah satu kandidat tidak benar. Yang benar hanya bersimpati.

Apakah sebelumnya anda mendukung Ahok?
Betul dulu tahun 2013. Banyak hal baik yang dia lakukan, hingga saya dukung, karena dia bagus. Tapi belakangan justru berubah.

Apakah anda tidak berpikir untuk meminta maaf pada Ahok?
Minta maaf ke siapa? Orang saya benar kok minta maaf ke siapa. Semua warga negara berhak berpendapat dan dijamin konstitusi.

Apakah benar anda orang Lombok?
Betul (sembari tertawa kecil). Saya orang Rensing, Sakra, Kabupaten Lombok Timur.

Bagaimana reaksi keluarga di Lombok saat mendengar anda dilaporkan?
Reaksi keluarga enggak terlalu khawatir. Padahal kita coba menutup-nutupi kabar ini, tapi tahunya mereka nonton tv juga. Tapi setelah saya jelaskan semuanya pada keluarga, mereka semua mendukung langkah saya ini.

Apakah ada teman-teman di Lombok yang menyemangati anda?
Semuanya menyemangati. Bahkan organisasi Lombok di Jakarta sudah mendukung semua. Saya juga dimasukan ke group Majelis Adat Sasak. Semuanya menyemangati saya, dari kawan-kawan SMA hingga kawan-kawan di Mataram dulu.

Sudah berapa lama anda meninggalkan Lombok?
Saya meninggalkan Lombok sejak tamat SMA 1 Mataram tahun 1987. Dulu namanya SMAN Mataram. Sekarang berubah menjadi SMAN 1 Mataram. Saya masuk Sastra Inggris di Udayana, Denpasar. Sekitar tahun 1990-1993 saya tamat. Saya ke Jakarta sejak umur 24 tahun dulu. Karena ada salah satu restoran di luar negeri yang menawarkan pekerjaan.

Akhirnya saya ke Jakarta. Kemudian saya menyuruh supir bus untuk mengantarkan saya ke Masjid Istiqlal. Saya melepas sandal saya di bus. Tapi setelah saya keluar masjid, justru bus itu sudah pergi. Akhirnya saya berkeliling di Jakarta tanpa sandal. Beruntung ada salah seorang teman lama di Mataram yang membantu saya. Belakangan juga baru saya tahu pekerjaan di luar negeri batal, sehingga saya menetap dan kerja di Jakarta.

Apakah anda memantau dinamika menjelang Pilgub NTB tahun 2018 nanti?
(Sembari tertawa kecil) Ia, daerah asal saya. Mudah-mudahan selalu sejahtera. Saya tidak memantau secara khusus, tetapi dengar-dengar dari teman-teman yang ada di Lombok. Semoga selalu kondusif dan dapat menjaring pemimpin yang dapat membawa NTB maju. Khususnya untuk pembangunannya semakin maju. (szr)