Waspadai Potensi Penularan Covid-19 di Kolam Renang

Lalu Martawang. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kolam pemandian umum menjadi tujuan favorit bagi masyarakat untuk menghabiskan libur akhir pekan. Tetapi potensi penularan coronavirus disease atau Covid-19 sangat tinggi dibandingkan aktivitas kerumunan lainnya. Hal ini perlu diwaspadai dengan secara ketat menerapkan protokol kesehatan.

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang menegaskan, kecenderungan pengunjung tidak memperhatikan protokol kesehatan secara ketat dengan membuka masker di kolam renang atau lokasi pemandian umum. “Ini yang perlu diwaspadai karena kolam renang itu potensi penularannya sangat tinggi,” kata Martawang dikonfirmasi pekan kemarin.

Jumlah kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19 mengalami peningkatan pasca libur Nataru. Martawang meminta pelaku industri, pelaku aktivitas olahraga dan tempat wisata untuk mentaati penerapan prokes secara ketat. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja bersama TNI dan Polri untuk melakukan peneguran terhadap potensi kerumunan.

Pemerintah tidak ingin menutup semua usaha karena harus menjaga keseimbangan antara ikhtiar kesehatan dan ekonomi. “Tidak mungkin kita akan tutup usaha masyarakat. Tapi tolong perhatikan juga protokol kesehatan,” imbuhnya.

Kendati demikian, jika terjadi prevalensi tinggi pasti yang dipicu oleh ketidaktaatan masyarakat maupun pelaku usaha menerapkan protokol kesehatan, maka tidak menutup kemungkinan tempat usaha itu akan ditutup. Oleh karena itu, pengusaha juga perlu memikirkan keberlangsungan aktivitas bisnis mereka. Pencegahan maupun penanganan virus corona demikian kata Martawang, jangan mengandalkan aparat keamanan semata untuk melarang. Tetapi pemilik usaha juga harus membantu bilamana terjadi potensi kerumunan yang berpotensi terjadinya penularan virus.

“Inilah tanggungjawab bersama. OTG ada di sekitar kita. Kita ikhtiar mencari jalan terbaik jangan sampai mengambil tindakan tegas diambil oleh aparat karena kelalaian,” ucapnya seraya menambahkan pelaku usaha diingatkan agar jangan mengejar keuntungan semata. “Kita tidak harus represif terhadap hal ini. Kita ingin keuntungan berkepenjangan, bukan sekali dapat untuk untung tapi seterusnya tidak ada,” demikian kata dia mengingatkan. (cem)