Waspadai Potensi Longsor Susulan di Jalur Sembalun

Material longsor berupa bebatuan yang menutupi jalan, mulai dibersihkan dari sepanjang jalan utama di Desa Sembalun Bumbung, Jumat kemarin. (Suara NTB/BPBD Lotim)

Selong (Suara NTB) – Masyarakat yang akan melintas di wilayah Kecamatan Sembalun, Lombok Timur (Lotim) maupun sebaliknya diimbau tetap mewaspadai longsor susulan. Pasalnya, pascalongsor, Kamis, 29 November 2018 lalu hingga kemarin, potensi bencana serupa berpeluang terjadi mengingat hujan terus mengguyur wilayah kaki Gunung Rinjani ini.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim, Lalu Rusnan, Jumat, 30 November 2018, hujan deras yang terjadi beberapa hari terakhir ini tidak hanya berpotensi terjadinya banjir bandang. Namun bencana tanah longsor merupakan hal yang harus diwaspadai terutama di wilayah yang dikelilingi perbukitan seperti di Kecamatan Sembalun.

Iklan

‘’Ada kemungkinan longsor susulan terjadi karena di Sembalun sudah mulai hujan. Di sana merupakan daerah perbukitan,’’ katanya.

Akibat tanah longsor, sempat dilakukan pengalihan arus lalu lintas hingga Jumat siang kemarin. Masyarakat diarahkan menggunakan jalur Suela-Sambelia karena material longsoran berupa bebatuan berukuran besar menimbun badan jalan utama tepatnya di Desa Sembalun Bumbung Kecamatan Sembalun. Lamanya proses evakuasi terhadap bebatuan karena alat berat yang diturunkan belum berani difungsikan lantaran hujan deras disertai longsoran masih terjadi.

‘’Memang longsoran merupakan dampak gempa yang terjadi beberapa bulan yang lalu membuat tanah menjadi labil. Sehingga ketika terkena hujan. Otomatis terbawa arus dan menyebabkan longsor,’’ katanya.

Air Terjun Segenter Longsor

Selain di lotim, bencana longsor juga terjadi di sekitar kawasan Air Terjun Segenter di Desa Pakuan Kecamatan Narmada Lombok Barat longsor Rabu dinihari, 14 November 2018 lalu. Sejumlah fasilitas umum tertimbun.

Air terjun Segenter masuk kawasan Geosite Geopark di kawasan Tanaman Hutan Rakyat (Tahura) Nuraksa. Selama puluhan tahun menjadi objek wisata yang difavoritkan masyarakat, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun tak terduga, tebing di sekitar air terjun longsor dan menimpa sejumlah bangunan yang masih tergolong baru.

Diantaranya, dua unit berugak, empat unit toilet, dua ruang ganti, dua bangku dan satu meja serta pengaman tangga.

Menurut Kepala Balai Tahura Nuraksa Syamsiah Samad, S.Hut.,M.Si, longsor diduga dipicu gempa yang terus menerus terjadi beberapa waktu lalu. ‘’Sehingga batu atau singkapan batu di sekitar air terjun terlepas dan ditambah dengan hujan yang sangat deras dan terus menerus,” kata Syamsiah kepada Suara NTB, Jumat, 30 November 2018 kemarin.  (yon/ars)