Waspadai Penjualan Obat Covid-19 dan Multivitamin Secara Online

Eko Esti Santoso.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi meminta masyarakat waspada terhadap penjualan obat-obat untuk penanganan covid, termasuk multivitamin yang dijual bebas secara daring (online). Penjualan obat-obat Covid-19 dan multivitamin secara online marak.

Ada pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan di tengah tingginya kebutuhan obat-obat dan multivitamin di saat pandemi ini. Sekreratis Gabungan Pengusaha Farmasi Provinsi NTB, Eko Esti Santoso, SE, MM, ditemui Suara NTB di Mataram, Selasa, 31 Agustus 2021 menjelaskan. Penjualan obat-obat Covid-19 dan multivitamin secara online ini mengkhawatirkan, terutama dari aspek jaminan keaslian obatnya.

Iklan

“Apalagi untuk obat-obat jenis tertentu harus menggunakan resep dokter. Tidak bisa sembarangan,” katanya kepada Suara NTB. Eko menyebut, membuka laman-laman penjualan obat secara online, dapat dengan mudah ditemukan. Misalnya, Favipiravir atau obat antivirus yang digunakan untuk mengatasi beberapa jenis virus influenza, seperti influenza A, yang menyebabkan flu burung dan flu babi, inluenza B, dan influenza C. bahkan digunakan untuk menangani infeksi virus Covid-19 sangat mudah dipesan dan bahkan tersedia di salah satu marketplace ternama.

Bagi masyarakat, kata Eko, mungkin tak memikirkan potensi dampaknya, bila obat-obat dimaksud bukan jenisnya yang asli diproduksi oleh perusahannya (obatnya palsu). “Kalau obatnya palsu, risikonya terhadap kesehatan tinggi. Masyarakat tidak semuanya bisa membedakan mana produk asli dan mana produk palsu,” ujarnya.

Pembelian obat-obatan Covid-19, dan multivitamin di sarana-sarana penjualan yang legal (apotek), sudah pasti keasliannya obatnya. Namun memang, pembelian obat-obat ini harus menggunakan resep dokter karena tidak dapat dikonsumsi sembarangan. “Obat ini termasuk jenis obat keras yang diatur distribusinya,” imbuhnya.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan Laboratorium Provinsi NTB ini juga menambahkan, penjualan obat-obatan untuk penanganan virus Covid-19 dan multivitamin pada sarana-sarana penjualan resmi juga harus dilaporkan ke pihak terkait, misalnya Dinas Kesehatan, dan Balai POM. Sehingga dapat dipastikan produk obat dan multivitaminnya sudah melalui proses yang benar dan dijamin keasliannya.

Selain kerugian terhadap konsumen, pemerintah juga merugi. Karena penjualan obat-obat Covid-19 dan multivitamin secara online, akan mempengaruhi penjualan obat-obatan yang ada di apotek. Akibatnya, PAD dan pajak-pajak penjualan akan terganggu. Karena banyak pihak yang berpotesi dirugikan oleh penjualan obat-obatan penanganan Covid-19 dan multivitamin secara online ini, seyogiyanya pemerintah melakukan penertiban untuk perlindungan kepada konsumen.

Kementerian Kesehatan BPOM, Aparat Penegak Hukum, dan Kemenkominfo dapat bersinergi melakukan penertiban kepada penjualanya. Bila meungkinkan, situs penjualan obat-obat Covid-19 secara online ini diblokir agar tidak terakses oleh masyarakat. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional