Waspadai Cuaca Ekstrem

Salah satu petani di Kelurahan Jempong Baru Kecamatan Sekarbela mengecek bibit padi yang baru ditanam.  Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu belakangan berpotensi mempengaruhi hasil panen padi, di mana banyak lahan pertanian berlumpur karena terendam air.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Badan Penanggungan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi bencana. Beberapa hari kedepan, diprediksi cuaca ekstrem yang mengakibatkan curah hujan tinggi dan angin kencang masih terjadi.

Potensi bencana dimaksud adalah pohon tumbang, banjir atau genangan, puting beliung dan lain sebagainya. Peristiwa ini seperti disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Mahfuddin Noer dikonfirmasi, Rabu, 24 Februari 2021.

Iklan

Angin kencang disertai hujan lebat dua hari terakhir mengakibatkan pohon tumbang di Jalan Gadjah Mada, Kelurahan Pagesangan. Pohon menimpa kendaraan yang melintas sehingga menyebabkan kemacetan. Lokasi lainnya adalah di Jalan Bung Karno serta di depan Makam Loang Baloq, Kelurahan Tanjung Karang. “Tim satgas langsung menangani dengan melakukan pemotongan supaya tidak menutupi ruas jalan,” terang Mahfuddin.

Cuaca ekstrem seperti hujan lebat terjadi cukup lama. Satgas penanggulangan bencana daerah yang terdiri dari instansi teknis lainnya, telah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Minimal tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan mendesak saat hujan lebat dan angin kencang. Menghindari berteduh di bahan pohon atau papan reklame. Selain itu, tidak membuang sampah di saluran drainase. “Karena itu bisa memicu penyumbatan yang mengakibatkan banjir atau genangan,” ucapnya.

Fase cuaca ekstrem sebenarnya di bulan Januari – Februari. Tetapi kata Mahfuddin, cuaca tidak bisa diprediksi. BPBD telah menetapkan siaga darurat bencana sampai 31 April. Rentang waktu itu, personel BPBD maupun instansi teknis lainnya bersama camat dan lurah harus tetap meningkatkan kewaspadaan.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya segera mengaktifkan kembali posko kedaruratan, penyiapan logistik bilamana terjadi peristiwa darurat serta berkoordinasi dengan stakeholder terkait. Menurutnya, terpenting adalah mengimbau ke masyarakat untuk tetap waspada bilamana terjadi ancaman – ancaman bencana yang berpotensi muncul.

 

Produktivitas Menurun

 

Sementara itu, cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu belakangan memberi dampak pada produksi pertanian di Kota Mataram. Terlebih hujan deras yang terus turun merusak kualitas tanah petani.

Salah seorang petani di Lingkungan Jempong Baru Mataram, Fatimah, menerangkan hujan yang terus turun membuat hasil panennya rusak dan berkurang. Hal tersebut disebabkan lahan pertaniannya yang terendam air sehingga dipenuhi lumpur.

“Kalau cuaca bagus bisa kita dapat 3 ton, tapi sekarang paling cuma bisa dapat 3 karung. Satu karung itu bisa 60 kg,” jelas Fatimah saat ditemui Suara NTB, Rabu, 24 Februari 2021.

Selain karena cuaca, pengurangan hasil panen menurutnya dipengaruhi juga dengan berkurangnya lahan pertanian yang ada. Terutama dengan pengalihan fungsi menjadi perumahan dan pertokoan.

Di sisi lain, posisi lahan pertaniannya yang lebih rendah dari saluran drainase juga membuat lahan pertanian Fatimah lebih mudah terendam air. “Yang tinggi-tinggi tidak rusak lahan pertaniannya. Kalau yang ini rendah jadi cepat rusak,” ujarnya.

Petani lainnya, Rukmah, menyebut dengan kondisi saat ini hasil panen untuk padi memang menurun. Bahkan penurunan telah terjadi sejak musim panen sebelumnya.

“Turun panennya.  Sebelumnya bisa dapat 3 ton, sekarang paling cuma 1 ton. Padinya juga banyak rusam terendam (air hujan),” ujarnya. Menurutnya, musim tanam kali ini sama sekali tidak menguntungkan bagi petani. Kondisi tersebut diperparah dengan melonjaknya harga pupuk subsidi dari pemerintah.

“Harga pupuk yang merah sama putih (pupuk subsidi, Red) itu biasanya Rp300 ribuan per timbang. Kadang bisa juga Rp400-500 ribu. Bagaimana mau untung kalau biaya perawatan padinya tinggi,” jelas Rukmah.

Terpisah, kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, H. Mutawalli, menerangkan kondisi cuaca saat ini tidak dapat diprediksi. Kendati demikian, hal tersebut diakui membuat produktivitas panen padi menurun.

“Karena cuaca ekstrem yang di luar perkiraan kita. Tapi mudah-mudahanan selamat panennya. Produksi memang turun, tapi kita lihat dulu berapa banyak, mudahan tidak terlalu besar turunnya,” ujarnya.

Jika kondisi cuaca bagus, per hektare lahan padi di Mataram disebutnya dapat menghasilkan 7-8 ton hasil panen. Pihaknya berharap dalam kondisi saat ini padi tanaman petani telah tumbuh cukup besar agar tidak terpengaruh cuaca.

“Itu kalau yang kecil belum keluar bunganya (padinya, red). Yang mengkhawatirkan justru yang sudah mulai keluar bunganya. Akan banyak yang kosong atau hampa dia,” jelasnya.

Di sisi lain, kelangkaan pupuk juga menjadi atensi pihaknya. Dimana stok pupuk subsidi terus berkurang sehingga banyak petani beralih menggunakan pupuk non-subsidi.

Untuk itu, pihaknya mengimbau agar petani beralih menggunakan pupuk organik yang lebih murah dan ramah lingkungan. “Petani kita suka pakai pupuk urea. Oleh pemerintah diganti pupuk organik, supaya dia beralih ke situ. Itu tujuannya,” tandas Mutawalli. (cem/bay)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional