Waspadai Banjir dan Tanah Longsor

H. Sahdan (Suara NTB/dok)

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mengatakan NTB sedang memasuki musim pancaroba, yaitu peralihan dari musim panas ke musim hujan. Dampaknya, rawan terjadi bencana banjir dan tanah longsor.

‘’Secara umum NTB masih kekeringan. Hujan yang baru turun ini, karena NTB masuk musim pancaroba, musim peralihan. Paling ditakuti musim peralihan ini,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD NTB, H. Sahdan, S.T., M.T., dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 15 September 2021.

Iklan

Sahdan menjelaskan, pada musim pancaroba dampak yang ditimbulkan cukup merusak. ‘’Ketika terjadi hujan luar biasa, sementara kondisi tanah masih kering. Terjadi drop down, itu yang banyak merusak bangunan. Karena tanah belum berkonsolidasi,’’ terangnya.

Mengantisipasi bencana banjir dan longsor akibat peralihan musim ini, Sahdan mengatakan BPBD sudah ada rencana kontijensi. Ia mengatakan, BPBD telah memiliki peta daerah-daerah di NTB yang rawan terjadi banjir dan tanah longsor.

‘’Berdasarkan peta rawan bencana, banjir dan longsor yang terjadi berulang-ulang kejadiannya seperti di Sekotong, Lombok Timur,’’ katanya.

Untuk mengurangi risiko bencana di daerah-daerah yang rawan, lanjut Sahdan, Pemprov menargetkan pembentukan 430 desa tangguh bencana sampai 2023 mendatang. Saat ini, capaiannya baru sekitar 200 desa tangguh bencana di NTB.

Sebelumnya, BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat mengatakan musim hujan di NTB akan datang lebih awal. Untuk itu, BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat meminta agar NTB mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.

Kepala Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Nuga Putrantijo, mengatakan kedatangan musim hujan umumnya berkaitan erat dengan peralihan Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi  Angin Baratan (Monsun Asia).

BMKG memprediksi peralihan angin monsun akan terjadi pada akhir Oktober 2021 dan setelah itu Monsun Asia akan mulai aktif. Saat ini anomali cuaca dan iklim yaitu Madden Julian Oscillation (MJO) sedang aktif di wilayah Indonesia termasuk NTB.

Kondisi ini menyebabkan beberapa hari terkahir di sebagian wilayah NTB telah terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Namun bukan berarti musim hujan sudah terjadi di wilayah NTB. Karena prakiraan Stasiun Klimatologi Lombok Barat, di akhir September dan awal Oktober nanti curah hujan akan kembali berkurang.

Umumnya musim hujan di NTB  terjadi pada Bulan November hingga Desember. Namun pada tahun ini, sebagian wilayah NTB, seperti Kota Mataram, dan sebagian Lombok Barat musim hujan akan datang lebih cepat yaitu di pertengahan Bulan Oktober 2021.

Puncak musim hujan periode ini diperkirakan akan terjadi pada Bulan Januari dan Februari 2022. Dengan curah hujan pada musim hujan nanti akan sedikit lebih tinggi dibandingkan kondisi biasanya untuk beberapa wilayah di NTB.

Awal musim hujan tahun 2021/2022 dari total 21 Zona Musim (ZOM) yang ada di NTB. Sebanyak 5 persen diprediksi akan mengawali musim hujan pada Oktober 2021, yaitu Kota Mataram dan sebagian Lombok Barat.

Kemudian 52 persen wilayah pada November 2021, meliputi Pulau Lombok bagian selatan, Pulau Lombok bagian tengah, utara, dan sekitar wilayah Rinjani. Serta Sumbawa Barat dan Sumbawa bagian tengah dan selatan.

Sementara itu, sebanyak 43 persen wilayah lainnya baru akan memasuki musim hujan pada Desember  2021, meliputi pesisir timur Pulau Lombok, Lombok utara bagian barat, Sumbawa bagian utara, serta seluruh wilayah Dompu, Bima, dan Kota Bima. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional