Waspada Risiko Resesi, NTB Harus Perkuat Ketahanan Pangan

M. Firmansyah. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Resesi mengancam di depan mata. Pemerintah juga telah mengumumkannya resmi. Untuk mengantisipasi dampaknya, Pemprov NTB didorong memperkuat ketahanan pangannya. Akademisi dari Univeritas Mataram, Dr. M. Firmansyah, M. Si yang mengingatkan hal itu.

Pada kwartal III tahun 2020 ini, Indonesia diprediksi sudah masuk jurang resesi. Resesi secara teori adalah pertumbuhan ekonomi mengalami pertumbuhan negatif dua kali berturut-turut. Resesi menggambarkan beristirahatnya aktivitas ekonomi. Daya beli juga melemah. Jika berkepanjangan, dampaknya adalah pengangguran, kemiskinan. Dan persoalan sosial. Dr. Firmansyah mengatakan, karena belum adanya tanda-tanda pandemi covid-19 ini berakhir. Apalagi di Indonesia angka penularannya meningkat, maka tahun depan diperkirakan akan menjadi masa sulit.

Iklan

Kita perlu punya skenario-skenario bila resesi berlanjut pada krisis ekonomi menyeluruh. Bila ketahanan pangan oke, kita kuasai suplay chain, Insya Allah kita stabil, katanya. Karena itu, diperlukan politik anggaran. Untuk ketahanan pangan, rekayasa substitusi impor dan perkuat jaring pasar. Dr. Firmansyah menambahkan, resesi bisa dicirikan rendahnya inflasi. Karena itu, daerah harus memikirkan ancaman resesi dimaksud.

Sedia payung sebelum hujan. Salah satu cara misalnya, belanja pemerintah salah satunya percepat realisasi anggaran. Proyek-proyek pengerjaan pembangunan di masyarakat semoga bisa direalisasaikan cepat, katanya. Dengan demikian, akan banyak masyarakat yang bekerja. Bahan bahan bangunan yang dibutuhkan akan menopang konsumsi masyarakat atau aspek lain adalah menggerakkan investasi.

Soal penguatan ketahanan pangan, imbuhnya, terutama soal ketergantungan terhadap produk-produk luar. Di sektor pertanian misalnya, harus dipetakan total produksi dan kebutuhan. Kemudian berapa yang bisa dijadikan cadangan. Demikian juga sektor kelautan perikanan, peternakan, perkebunan. Seluruh aspek itu harus diperkuat.

Setelah dipastikan cadangannya cukup, bahkan berlebih untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu tertentu, baru dikirim keluar. Resesi salah satu sumbernya adalah kebutuhan yang banyak tergantung dari luar. Jika kebutuhannya tergantung dari pasokan yang tersedia di dalam (daerah), maka uang yang dibelanjakan untuk mendapatkannyapun akan berputar di dalam daerah.

Harapannya, pemerintah daerah juga kuat mendorong substitusi dari kebutuhan-kebutuhan yang selama ini mengandalkan dari distribusi luar. Misalnya upaya menggunakan minyak goreng pabrikan dari luar, bisa dipenuhi secara mandiri dengan mengolah potensi kelapa NTB menjadi minyak goreng. Targetnya harus jelas berapa persen bisa disubstutusi produk luar ini. Kemudian bagaimana caranya supaya preferensi konsumen NTB lebih memilih produk UMKM lokal. Disinilah rekayasa-rekayasa ekonomi itu dilakukan. Jika hal ini bisa dilakukan, kita bisa lebih stabil menghadapi resesi, demikian Dr. Firmansyah. (bul)