Warga Terpencil Telaga Lupi Sekotong, Akses Jalan Rusak Parah, Masyarakat Kesulitan ke Sekolah dan Berobat

Ketua DPRD Lobar Hj. Nurhidayah menggunakan sepeda motor di jalur jalan tanah dan rusak menuju Dusun Persiapan Telaga Lupi Desa Sekotong Barat. (Suara NTB/her)

Warga masyarakat yang mendiami Dusun Persiapan Telaga Lupi Desa Sekotong Barat Kecamatan Sekotong hidup terpencil. Mereka telah lama menderita akibat kondisi jalan yang rusak parah. Sekitar 1.5 kilometer jalan itu masih jalan tanah, berbatu dan mengalami abrasi. Warga pun berharap dibangunkan jalan agar mereka merasakan jalan layak seperti warga lainnya.

Jahre, Ketua RT 7 Telaga Lupi mengaku telah sekian lama 68 KK warga setempat mendambakan pembangunan jalan yang menghubungkan dengan Teluk Gok dengan panjang 3 kilometer lebih. “Kalau sampai ke daerah kami, sepanjang 1,2-1,5 kilometer. Jalannya masih tanah, rusak parah,” tuturnya, Senin, 18 Januari 2021.

Iklan

Akses jalan ini dibuka swadaya oleh warga, beberapa tahun silam. Warga mengusulkan ke desa untuk diperbaiki, namun belum ada realisasi.

Ada penanganan beberapa meter jalan, itupun dibangun sebatas dirabat melalui program IFAD. Namun penanganan jalan ini belum memenuhi harapan warga, Karena mereka mau semua jalan itu dirabat. Bila perlu diaspal. Dampak kondisi jalan rusak, sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar. Apalagi warga tidak menentu kapan dilanda penyakit. “Kadangkala malam, siang hari. Yang paling sakit kita di sini, kalau ada warga kami sakit tengah malam. Kami sangat kesulitan sekali untuk mengangkut ke rumah sakit. Kadang ada yang meninggal warga kami, ndak dapat pengobatan karena kesulitan jalan dan kendaraan untuk mengangkut,” keluhnya.

Termasuk ketika ada warga yang mau melahirkan begitu susah. Warga harus pergi mencari kendaraan ke daerah luar.

Begitu pula akses pendidikan sangat jauh, jaraknya mencapai 1,5 hingga 2 kilometer. Itupun anak-anak harus melalui jalan rusak. Ketika hujan, para orang tua pergi menggendong anaknya ke sekolah. “Semua anak menenteng sepatunya, kadang orang tua gendong anaknya ke sekolah,”imbuh dia.

Ia berharap agar ada bantuan kendaraan khusus untuk mengangkut warga sakit dan anak-anak ke sekolah. Kalau ada kendaraan ini jelas dia, tentu sedikit meringankan beban warga setempat.

Selain itu, semua nelayan di daerah itu masih kesulitan bahan bakar. Harganya pun lumayan tinggi. Per liter dibeli Rp10 ribu. Harga lebih mahal karena alasan akses jalan yang rusak parah. Pihaknya juga membutuhkan bantuan alat tangkap. Dalam sekali menangkap kalau waktu normal hasil tangkapan mencapai Rp500 ribu. Namun saat ini, kondisi cuaca buruk mengakibatkan nelayan tidak bisa melaut. Terpaksa nelayan banting setir menjadi buruh, dan tukang pemecah batu.

Sementara itu, Ketua DPRD Lobar Hj. Nurhidayah yang saat turun ke daerah itu mengatakan ia melihat langsung kondisi jalan di daerah. Diakuinya kondisinya sangat memprihatinkan. Apalagi anak-anak sekolah menempuh jarak 2 kilometer dengan kondisi rusak parah. “Untuk itu- saya akan koordinasikan dengan dinas terkait agar bisa dianggarkan tahun berikutnya untuk sekedar jalan dulu secara bertahap, karena juga terjadi abrasi,” jelas dia.  (her)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional