Warga Sekotong Tolak Rastra yang Rusak

Giri Menang (Suara NTB) – Warga di Desa Sekotong Tengah menolak beras sejahtera (rastra) yang dibagikan Bulog, warga menolak beras bantuan lantaran kondisinya tak layak untuk dimakan. Beras yang dibagikan rusak, berwarna kuning bahkan berkutu. Warga pun beramai-ramai mendesak Bulog mengganti rastra dengan yang layak.

Kepala Desa Sekotong Tengah L. Sarapudin menyatakan, rastra untuk jatah masyarakat setempat telah datang beberapa hari lalu. Namun timbul gejolak penolakan dari warga lantaran kondisinya yang rusak.

Iklan

“Warga menolak karena berasnya rusak, berkutu, saat ini beras masih ditampung di rumah. Karena warga ndak mau terima,“ akunya.

Menurutnya, jatah rastra untuk Desa Sekotong sebanyak 15 ton lebih sekali distribusi. Sebagian besar kondisi beras ini rusak dan berkutu, sehingga hampir semua dusun tak mau menerima beras yang buruk. Kondisi ini tak hanya kali ini saja namun sering kali masyarakat diberikan beras jelek oleh Bulog.

Ia berharap agar kondisi ini dijadikan perhatian serius supaya Bulog tidak lagi membagikan beras buruk ke warga miskin.

Kondisi serupa terjadi di Desa Batu Putih, kondisi rastra yang dibagikan tak layak, sehingga warga memprotes Bulog. Beberapa dusun di desa itu menerima beras tak layak mengkonsumsi beras, karena berkutu dan warna kuning.

Sementara Ketua LPKSM Lobar, Fathurrahman menyatakan pihaknya telah turun ke Desa Sekotong melihat kondisi beras tersebut. Pihaknya menemukan kondisi beras jelek, tak layak dikonsumsi. Langkah selanjutnya, pihaknya akan mengkomunikasikan dengan Bulog.

Jika pihak terkait tidak mematuhi, sesuai aturan pihaknya akan bersurat ditembuskan ke bupati, gubernur, kementerian, bahkan presiden. “Barulah kalau tidak bisa diajak berbicara (komunikasi) kami akan lakukan class action Bulog ke pengadilan,’’ tegasnya.

Anggota DPRD Lobar Adnan menegaskan, rastra yang buruk harus diamankan oleh pemdes. Ia meminta rastra ini tidak dibagikan ke rakyat, karena tak layak konsumsi. Ia meminta agar pemdes mengembalikan ke Bulog agar diganti. Ia menegaskan, pihak Bulog harus bertanggung jawab, sebab untuk pengadaan beras ini besar anggarannya, namun beras yang diberikan ke rakyat buruk.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Sosial Lobar Hj. Made Ambarwati menegaskan, jika warga menolak rastra dipersilakan mengembalikan ke Bulog dan Bulog akan menggantinya. Terkait persoalan kualitas beras ini urusan Bulog, “Jadi bisa dikembalikan dan nanti diganti Bulog,“ tegas Ambar.

Rastra rusak yang tidak bermutu juga ditemukan di Kelurahan Leneng Praya Lombok Tengah (Loteng).  Akibatnya, banyak warga yang kemudian memilih untuk menjual kembali jatah raskin yang diterima tersebut ke pengepul.

“Mau dikonsumsi kondisi beras jelek gitu. Jadi warga banyak yang kemudian memilih untuk menjualnya kembali. Meski harus dengan harga yang lebih murah lagi,” ungkap Lurah Leneng, M. Isnaini, kepada wartawan di kantornya, Rabu, 31 Mei 2017.

Lebih parahnya lagi, berat raskin yang disalurkan kepada warga penerima banyak yang kurang. Antara 1 sampai 2 kg per sak karungnya. Di mana untuk satu sak karung beras tertera beratnya 15 kg. Namun pada kenyataannya, setelah dicek lagi dengan cara ditimbang ulang, beratnya hanya 14 kg. Bahkan ada juga yang beratnya hanya 13 kg saja.

Terhadap persoalan tersebut, pihaknya juga sudah beberapa kali melayangkan protes ke pihak Bulog. Melalui gudang Bulog Praya selaku penyalur. Hanya saja, protes ini belum direspons Bulog. Pihaknya berharap, walaupun ini beras murah tapi paling tidak kualitas beras jangan terlalu jelek.

Ketua Badan Keamanan Kelurahan (BKK) Leneng, Selamet Riadi, menambahkan, kejadian seperti itu  bukan sekali terjadi, tapi sudah terjadi berkali-kali. (her/kir)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional