Warga Pondok Perasi Tuntut Kaling Mundur

L. Issugiono. (Suara NTB/viq)

Beberapa warga di Lingkunga Pondok Perasi menuntut Kepala Lingkungan (Kaling) Pondok Perasi untuk mundur. Mereka menganggap selama ini Kaling Pondok Perasi tak mampu mengadvokasi semua permasalahan warga.

Lurah Bintaro, Lalu Issugiono mengatakan, dari segelintir warga Lingkungan Pondok Perasi diakuinya berada pada barisan sakit hati. Karena, sebagian warga beranggapan Kaling tidak bisa bekerja profesional sehingga muncul kekesalan. Warga pun menilai, hampir semua masalah di Pondok Perasi tidak bisa diselesaikan oleh Kaling.

Iklan

“Pada prinsipnya warga sakit hati sama pak Kaling. Makanya beberapa warga mendatangi kantor Lurah meminta agar Lurah pecat Kaling,” kata Issugiono, Sabtu, 15 Februari 2020. Kata dia, proses pemecatan Kaling harus melalui makanisme dan prosedur sesuai peraturan. Selama ini kata Issugiono, Kaling Lingkungan Pondok Perasi tidak memiliki kesalahan yang harus membuat Kaling turun dari jabatannya. Kelurahan pun kata dia, tidak bisa membuat keputusan sepihak.

Ada pun mekanisme pengunduran Kaling kata dia, harus memiliki kesalahan yang sangat fatal yang tidak bisa ditoleransi. “Setelah melakukan evaluasi kinerja Kaling Pondok Perasi. Dari tuntutan warga, ada beberapa kejanggalan yang menyulut warga meminta Kaling segera mundur dari jabatannya,” jelasnya.

Dari evaluasi yang dilakukan terhadap kinerja Kaling Pondok Perasi, ada dua masalah yang dijadikan alasan warga yang meminta Kaling Pondok Perasi turun dari jabatannya. “Dari evaluasi yang kita lakukan, dua masalah yang menyita perhatian. Dulu masalah perkelahian adanya pembacokan warga. Dan kedua karena warga menganggap Kaling tidak bisa bekerja untuk warga yang dieksekusi,” katanya.

Warga menganggap masalah eksekusi lahan di Pondok Perasi selama ini, Kaling tidak bisa membela warga. Issugiono pun menilai warga, masalah eksekusi lahan itu disangkutpautkan adanya permainan dari Kaling Pondok Perasi. “Padahal Kaling tidak memiliki peran di situ, karena masalah eksekusi murni masuk ke ranah hukum,” katanya.

“Sehingga beberapa warga ini demo meminta untuk pecat Kaling. Terus mereka mencari sertifikat pemilik tanah yang dieksekusi di pak Kaling,” katanya. Ia menduga ada provokator yang menginginkan Kaling Pondok Perasi untuk mundur dari jabatan.

“Tapi kita sudah redam, saat ini sudah kondusif. Kita sudah mediasi dan lakukan klarifikasi di masjid pada Jumat kemarin. Intinya warga sakit hati sama Kaling, sehingga ada tekanan dari warga ke lurah untuk pecat Kaling,” jelasnya. Pihaknya meminta, agar masalah Pondok Perasi dapat dibicarakan dengan kepala dingin.

Saat ini kata Issugiono, pihaknya sudah memastikan, suasana di Pondok Perasi sudah kondusif. Dia berharap warga tak lagi membuat aksi provokasi yang bisa menyulut emosi warga lainnya. “Kita harus aman, damai. Jangan sampai ada yang mau perang dan semacamnya. Intinya harus kondusif,” katanya. Pihaknya pun sudah memastikan, bahwa warga sudah bisa menerima permasalahan itu untuk diselesaikan secara kekeluargaan. (viq)