Warga Pondok Perasi Mulai Menempati Huntara

Warga Pondok Perasi sudah mulai memindahkan semua barangnya ke dalam Huntara dari tenda pengungsian, Jumat, 7 Februari 2020. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Sebanyak 50 kepala keluarga (KK) lingkungan Pondok Perasi mulai meninggalkan tenda pengungsian. Pasalnya, pembangunan huntara sampai saat ini, dalam tahap finishing. Baik pemasangan skat di enam unit Huntara dan pemasangan kawat penghalang nyamuk.

Ditemui Suara NTB, Jumat, 7 Februari 2020 kemarin, salah satu warga Pondok Perasi, Abdul Gafur (50) yang mendiami tenda selama dua bulan ini menjelaskan, ada beberapa kendala yang dihadapi selama berada di dalam tenda pengungsian. Selama berada di dalam tenda ujar Gafur, merasa kesulitan saat cuaca buruk menerpa lokasi pengungsian.

Iklan

Selama ini ujar Gafur, pembangunan Huntara melenceng dari apa yang sudah ditargetkan Pemkot Mataram. Masalah lain yang dihadapi Gafur selama dua bulan berada di pengungsian, sama halnya seperti apa yang dirasakan oleh Siti (45) warga Pondok Perasi yang berprofesi sebagai pengepul ikan tongkol ini. “Terutama masalah kesehatan, dan ekonomi. Tapi alhamdulillah, kemarin kita sudah difogging selama dua kali dari pihak Puskesmas,” jelasnya.

Menurut Gafur dan Siti, selain masalah kesehatan, juga Pemkot Mataram perlu memerhatikan ketersediaan air bersih untuk warga Pondok Perasi selama mendiami Huntara. Bukan hanya itu kata Gafur, kondiri MCK juga perlu diperhatikan oleh pemerintah. “Air sumur ini kan swadaya dibuat oleh warga kita. Air ini tidak bisa diminum karena menimbulkan bau tak sedap,” ujarnya.

“Masalah lain juga ketersediaan listrik. Aliran listrik ini kan diperoleh dari PJU itu. jadi setiap hari pasti nyala-mati, begitu terus,” ungkapnya. Dalin pun mengiyakan, kondisi sumur dan listrik di lokasi Huntara tempat tinggal 50 KK dari warga Pondok Perasi harus diperbaiki. “Pas digusur kan, semua meteran kita rusak, jadi setelah pindah ke sini, kita tidak bisa nikmati lagi,” ungkapnya.

Dalin pun meminta agar Pemkot Mataram memerhatikan kondisi tersebut. Selain itu, selama ini, warga hanya bisa menggunakan air sumur swadaya sebagai tempat mencuci dan mandi saja. “Kita tidak berani minum karena airnya sudah menimbulkan bau tak sedap. Sebenarnya kita butuh air PDAM untuk diminum,” jelasnya.

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang menjelaskan, Pemkot Mataram selama ini pada posisi percepatan pembangunan Huntara. Warga sudah bisa menempati Huntara pada awal Februari ini. “Kita sudah minta kepada Perkim untuk melakukan percepatan pembangunan Huntara, karena kondisi cuaca ini,” katanya belum lama ini. (viq)