Warga Oi Katupa Pulang Kampung

Bima (Suara NTB) – Kelompok warga Oi Katupa Kecamatan Tambora yang menuntut pembebasan lahan yang diduga diserobot oleh PT Sanggar Agro, akhirnya kembali ke kampung halamannya pada Jumat, 28 Oktober 2016 sore.

Ketua Tim Invetigasi Sengketa lahan, Drs H. Muzakkir, M.Sc mengatakan, warga berangkat dari lokasi penampungan di Paruga Nae Talabiu Kecamatan Woha menggunakan dua unit kendaraan milik Pemkab Bima.

Iklan

“Kepulangan warga langsung dikawal Sat Pol PP dan Polres Bima. Mereka tiba dikampung waktu antara Maghrib dan Isya,” katanya, Sabtu.

Menurut Asisten II Setda Kabupaten Bima ini, kepulangan warga berdasarkan inisiatif sendiri. Karena pemerintah menyakinkan kepada mereka bahwa polemik tersebut akan diselesaikan tanpa merugikan salah satu pihak, terutaman warga.

“Lahan yang dituntut oleh warga ini terlebih dahulu akan dilakukan verifikasi faktual oleh Pemerintah Desa dan Kecamatan dengan melibatkan warga,” katanya.

Ia berharap, sekembalinya warga di kampung halaman, mereka dapat melakukan aktivitas seperti biasa, bertani dan berkebun. Sedangkan Kepala Desa, Muhidin, yang memimpin aksi tersebut juga dapat menjalankan program desa yang beberapa bulan mandek.

“Kami berharap semuanya tetap berjalan dengan baik, tidak ada polemik ataupun sengketa lagi,” pungkas Muzakkir

Warga desa Oi Katupa yang dipimpin Kadesnya, Muhidin mendesak pemerintah terkait status hukum Perda nomor 2 tentang pemekaran desa dengan izin Hak guna Usaha (HGU) PT Sanggar Agro. Karena dalam dua aturan itu, lahan seluas 5.000 hektar diklaim merupakan wilayah administrasi Desa Oi Katupa dan juga HGU PT ini untuk menanam pohon kayu putih.

Selama dua bulan warga sempat melakukan aksi demonstrasi menuntut aturan itu  bisa diputuskan sehingga tidak terjadi polemik berkepanjangan, di Kantor DPRD Kabupaten Bima dan kantor Bupati. Hingga terakhir kali di bandara Sultan Salahuddin Bima bahkan nyaris memboikotnya.

Sekitar dua bulan lalu mereka datang ke Bima berjalan kaki dengan perjalanan siang dan malam. Selama di Bima, warga yang terdiri dari anak, ibu-ibu dan orang tua itu, menginap di dua penampungan yang berbeda. Yakni di Kantor eks Bupati Bima dan aula paruga desa Talabiu Kecamatan Woha. (uki)