Warga Nambung Datangi DPRD Loteng

Praya (Suara NTB) – Belasan perwakilan warga Nambung  mendatangi gedung DPRD Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Senin, 24 Oktober 2016. Kedatangan warga untuk menegaskan kalau wilayah Nambung sejak dulu merupakan bagian dari Loteng.

 Pada kesempatan itu, warga juga menegaskan berkomitmen untuk tetap setiap menjadi bagian dari Bumi Tatas Tuhu Trasna. “Lobar baru mengklaim kalau wilayah Nambung menjadi bagian wilayahnya sekitar tahun 1992,’’ ujar Anhar, warga Nambung.

Iklan

Akibatnya, banyak warga setempat yang kehilangan lahannya. Lantaran lahan yang dimiliki diklaim sebagai wilayah Lobar. “Dulu saya punya lahan di sana (Nambung,red) sekitar 4 hektar. Tetapi setelah diklaim masuk wilayah Lobar, luas lahan saya tinggal 2,5 hektar,” sebutnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Desa Montong Ajan, Enddudi Yadi. Menurutnya, seluruh warga Nambung tetap berkomitmen menjadi bagian dari Loteng, karena secara kultur dan histori, warga serta wilayah Nambung masuk wilayah Loteng. “Jadi dulu pada tahun 1990-an, ketika wilayah Nambung diklaim Lobar, warga tidak tahu menahu. Baru sekarang warga tahu kalau wilayah Nambung masuk wilayah Lobar,” imbuhnya.

Ketua Komisi I DPRD Loteng, M. Samsul Qomar, yang menemui warga di ruang Banmus DPRD Loteng, meminta kepada Pemkab Loteng segera bersikap dengan segera mengumpulkan semua bukti dan keterangan pendukung, khususnya status wilayah Nambung. Jangan sampai kemudian, ada bagian dari wilayah ini yang hilang lantaran diklaim daerah lain.

Menanggapi adanya warga Nambung yang mengadu ke DPRD Loteng, pihak Pemda Lobar melalui Kabag Pemerintahan Setda Lobar, Hamka, S.Sos, tak mempersoalkannya. Pemda Lobar, jelasnya, tak mau berpolemik di media terkait tapal batas Nambung. Sejauh ini, jelasnya, persoalan tapal batas ini telah diserahkan ke kemendagri.

“Tinggal kita tunggu saja hasil keputusan (SK) dari Kemendagri. Kami sebenarnya tak mau polemik di media,lebih-lebih ada surat dari gubernur yang meminta kedua belah pihak pemkab Lobar-Loteng tidak berpolemik di media,” jelas Hamka, Senin (24/10) malam.

Ia menambahkan, perihal tapal batas ini sebenarnya telah ada berita acara kesepakatan Lobar-Loteng tentang titik koordinat ditapal batas tersebut. Penentuan titik koordinat ini menggunakan skala peta 10.000 jarak pal batas utama (PBU). Atas dasar berita titik koordinat inilah, Nambung yang masuk Dusun Pengantap masuk ke wilayah Lobar. Di Dusun Pengantap ini Pemda Lobar telah membangun sejumlah fasilitas dasar, pendidikan dan kesehatan. Berita acara ini juga menjadi dasar nantinya kemendagri memutuskan soal tapal batas tersebut. Setelah diputuskan titik koordinat, tidak berhenti sampai di sana selanjutnya dilakukan perapatan (pemasangan). (kir/her)