Warga Mulai Krisis Air, Anggaran Penanggulangan Kekeringan Dipangkas

Giri Menang (Suara NTB) – Warga di tiga desa di Lombok Barat (Lobar) mulai mengelukan krisis air bersih. Tiga desa yang mengeluh krisis air bersih antara lain Desa Sekotong Tengah, Batulayar dan Duman Lingsar sudah mengajukan permohonan permintaan air bersih ke Pemda. Namun, ada satu persoalan yang dihadapi oleh Dinas Sosial (Disos), yakni anggaran penanggulangan kekeringan dipangkas menyusul terjadinya defisit anggaran Rp40 miliar.

“Biaya BBM untuk pengangkutan air untuk kekeringan dipangkas, karena anggaran defisit. Anggaran ini juga untuk pengangkutan logistik penanganan bencana lain. Sisa anggaran ini pun dikawatirkan tak cukup untuk menanggulangi sampai Desember,’’ ungkap Kepala Disos Lobar Hj. Made Ambaryati kepada wartawan, Kamis, 7 Juni 2018.

Iklan

Ambar mengaku anggaran untuk penanganan kekeringan di Disos hanya untuk membiayai pembelian BBM. Sebelumnya jumlah dana Rp 18 juta untuk biaya pengangkutan air, baik kekeringan dan logistik untuk bencana lain. Namun belakangan dipangkas Rp 10 juta, sehingga tersisa saat ini Rp5,7 juta.

Persoalan lain yang ikut terkena pemangkasan adalah untuk biaya operasional ongkos sopir. Pihaknya sudah membahas hal ini agar bisa dikembalikan lagi, sebab bencana belum bisa diprediksi.

Terkait penanganan kekeringan sudah ada tim antara lain BPBD, PDAM dan Damkar serta Disos. Di mana di BPBD ada anggaran untuk droping air, dan di PDAM menyiapkan air. Namun, sejauh ini belum ada rapat koordinasi dengan instansi terkait.

Sekarang ini, ujanya, sejumlah titik sudah kekeringan sudah ditangani antara lain di Desa Duman. Sedangkan untuk delapan titik kekeringan di Desa Sekotong Tengah akan diupayakan untuk ditanggulangi. Pihaknya meminta agar desa yang mengalami kekeringan bersurat langsung ke Pemda dalam hal ini bupati.

Sementara itu Kepala BPBD Lobar H. M. Najib mengaku belum mendapatkan laporan terkait adanya bencana kekeringan yang terjadi di beberapa titik. Sebab pihaknya belum menerima surat resmi dari desa, sehingga belum bisa melakukan tindak lanjut. Namun demikian pihaknya terus siap siaga mendroping air bagi daerah yang terkena kekeringan. “Kami sudah siap, kalau desa bersurat kalau drop airnya,” ujarnya. (her)