Warga Mareje Keluhkan Akses Jalan Penghubung Desa

Giri Menang (Suara NTB) – Warga Mareje Kecamatan Lembar mengeluhkan akses jalan kabupaten yang kondisi rusak parah. Warga merasa dianaktirikan oleh pemerintah, lantaran pemda tak pernah menyentuh pembangunan akses jalan di desa setempat. Padahal kondisi jalan tak layak dilalui masyarakat, karena rusak parah. Akses jalan ini juga termasuk jalan penghubung antara Desa Mareje dengan Desa Cendimanik Kecamatan Sekotong.

Warga mengaku sudah lelah mengusulkan lewat musrenbang desa hingga kecamatan, namun mentok. Karena itu, besar harapan warga Mareje agar wakil rakyat bisa memperjuangkan nasib masyarakat tersebut.

Iklan

Ketua Generasi Muda Buddha Indonesia (Gema Budhi) NTB yang tinggal di Dusun Ganjar Desa Mareje Barat, Adi Saputra menuturkan kondisi jalan di desa setempat khususnya di beberapa dusun, yakni Dusun Pelan, Ganjar, Montong Jago, Guli dan Dusun Batu Petak sangat memprihatinkan. Kondisi jalan terdapat kubangan seperti kolam. Bahkan,sebagai bentuk protes warga sengaja memancing di kubangan jalan tersebut. “Akses jalan ini menghubungkan Desa Mareje dengan Cendi Manik Sekotong, ini sangat rusak parah. Karena tak pernah disentuh semenjak dibangun tahun 1996 sejak dibuka swadaya oleh masyarakat,” aku Adi.

Hal senada disampaikan Nasip. Dalam hal ini, ujarnya, warga menuntut kepastian kapan pemda membangun akses jalan tersebut. Sebab akses jalan ini sangat rusak parah. “Intinya kami menunggu realisas dari pemda,“ tuntutnya.

Sementara Kepala Desa Mareje, Nurudin menyatakan, usulan pembangunan jalan ini sudah dimasukkan dalam RKP dan musrenbang kecamatan semenjak tahun 2013. Akses jalan yang perlu segera dibangun sepanjang 3 kilometer mulai dari Dusun Ganjar-Batu Petak yang berbatasan dengan Desa Cendi Manik.

Diakuinya, sejak dibuka puluhan tahun lalu persisnya tahun 1996-1997 akses jalan ini tak pernah disentuh pemda, padahal saat itu jalan ini sudah masuk jalan kabupaten. “Musrenbangcam 2016 lalu dari PU bahkan siap mensurvei jalan itu, namun ditunggu-tunggu tidak ada yang datang, padahal sudah prioritas di musrenbang,”keluhnya.

Ia selaku kades setempat bahkan berinisiatif menggunakan dana pribadi untuk menutup kubangan jalan menggunakan tanah uruk, namun ambruk lagi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Lobar, Made Artadana mengatakan, warga perlu memaklumi dan memahami daftar perencanaan bemuara pada keterbatasan anggaran. Menurutnya, berdasarkan daftar urutan hasil musrembang Kecamatan Lembar terkait pembangunan akses jalan, paling atas atau ranking satu Dusun Jelateng Sekotong Timur, ranking dua Dusun Lendang Andus Desa Labuan Tereng, ranking 3 Dusun Beroro Desa Jakem. Sementara perbaikan Jalan Mareje masuk usulan ke empat.

Dari data yang ada ini, jelasnya, menjadi dasar untuk pendaftaran dan usulan. Untuk penanganannya jelas Made, yang paling memungkinkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). “Di Mareje ini kita upayakan usulkan ke Kementerian PDT,” jelasnya.

Menurutnya, jika tidak diakomodir lewat Kementerian PDT barulah dilakukan solusi melalui pembiayaan dari APBD. Untuk pembiayaan jalan ini jika pembangunan total diperlukan dana Rp2 miliar per satu kilometer jalan, sehingga total dana yang diperlukan untuk 3 kilometer R 6-7 miliar. Sedangkan jika hanya diperbaiki dan rabat jalan di spot-spot tertentu kebutuhan anggaran diperkirakan Rp 3-5 miliar. (her)