Warga Lombok Korban Gempa di Palu Rindu Keluarga

Zakiah dan ibunya Maenah ditemui Suara NTB di rumahnya yang rusak akibat gempa. (ars)

Palu (Suara NTB) – Kehidupan warga Lombok yang tinggal di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng)  tidak kalah memperihatinkan.  Mereka hidup di selter dan tenda pengungsian.  Terputus komunikasi dengan keluarga membuat mereka semakin nestapa.

Zakiah (45)  salah satu korban yang berhasil ditemui Suara NTB di pengungsian. Ia lahir di Kelurahan Turida Kecamatan Sandubaya Mataram. Merantau 24 tahun lalu saat program transmigrasi dibuka di Palu.

Iklan

Zakiah bersama keluarganya berada di rumahnya RT 01 RW 02 Kelurahan Duyu Kecamatan Ketangga Kota Palu.  Waktu kejadian gempa Jumat 28 September 2018 lalu, Zakiah bersama anggota keluarganya berada di dalam rumah berhasil selamat.

Hanya ibunya Maenah mengalami luka ringan akibat terkena reruntuhan. Anaknya Rahayu bersama seorang cucunya juga selamat. Selama menjadi korban, keluarga Zakiah samasekali tidak ada yang menanyakan kabar,  apalagi mengirim bantuan khusus ke tenda pengungsian.

“Saya ndak punya nomor handphone,  bagaimana mau hubungi?  Mereka juga ndak punya nomor handphone saya. Jadi ndak bisa samasekali komunikasi,” kata Zakiah yang masih fasih aksen Sasak.

Sebenarnya ada keinginan besar untuk pulang kampung,  melihat langsung keluarganya di Mataram yang sudah ditinggal 20 tahunan. Keinginan itu sejak gempa pertama 6,4 SR Minggu 29 Juli 2018.

Begitu gempa kedua Minggu malam tanggal 5 Agustus 2018 dengan kekuatan 7,0 SR kerinduannya semakin kuat. “Setiap lihat televisi ada berita Lombok saya nangis terus. Ingin tahu kabar keluarga,” akunya.

Setelah gempa  di Palu, yang bisa dilakukan hanya menyelamatkan diri sendiri dan keluarga. Bersyukur saat ini bisa tinggal di tenda pengungsian dan ditampung di Selter relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT)  di kelurahan yang sama.

Beberapa kali ia bertemu dengan warga asal Lombok,  menyampaikan keinginannya untuk pulang. Tapi rasanya sulit terwujud, apalagi biaya cukup mahal. Penghasilannya sebagai tukang cuci diyakini tidak cukup untuk membeli  tiket.

“Kalau pun bisa pulang,  saya mau ibu saya saja yang ke Lombok.  Biar ketemu dengan keluarga di sana, ” harapnya.

Ia juga masih ingat anggota keluarganya dan teman teman sebayanya. (ars)