Warga Keluhkan Aktivitas Galian C di Kawasan Wisata Sesaot

Lokasi galian C di kawasan wisata Sesaot ditutup karena memicu kerusakan jalan.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Warga di daerah wisata Sesaot Kecamatan Narmada mengeluhkan aktivitas galian C. Pasalnya pengangkutan material galian C menggunakan dam truk menyebabkan akses jalan di daerah itu rusak parah. Seperti yang terjadi di Dusun Temas Lestari.

Salah satu warga Amaq Febrian saat ditemui wartawan, mengatakan kondisi ruas jalan penghubung antar dusun tersebut sangat memprihatinkan. Apalagi aktivitas warga ketika melawati jalan ini sangat bermanfaat. “Warga yang lewat tiap harinya, harus merasakan gelombang dan geteran saat mengenderai sepeda motor, karena kondisi jalan ini sudah rusak parah. Ironisnya bukan kali ini saja tetapi sejak beberapa tahun lalu,” ujar Amaq Febrian.

Iklan

Apalagi di musim hujan, mengakibatkan jalan menjadi becek, berlubang bahkan longsor.Atas kondisi itu, Amaq Febrian berharap, pemerintah desa berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan kondisi jalan ini karena sangat sulit di lalui. “Semoga bisa menjadi perhatian pemerintah desa dan daerah untuk memperbaiki jalan Dusun Temas Lestari yang rusak,” harapnya.

Kades Sesaot Yuni Hariseni tak menampik kondisi aktivitas galian C di daerahnya. Galian C sudah dilakukan penutupan oleh pihak desa dan Pemda. “Tapi informasinya ada satu yang masih operasi yakni pencurian pasir,” terangnya. Pihaknya mengakui aktivitas galian C menyebabkan kerusakan jalan akibat dilalui kendaraan dam truk yang mengangkut material galian C. Pihak Desa dari dulu mengingatkan warga agar tidak lagi melakukan aktivitas galian C. Hanya saja paradigma berpikir warga yang kurang memikirkan dampak dari aktivitas galian C ini.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat melalui Kepala Bidang Penegakan Hukum dan Kapasitas Lingkungan Hidup, Lale Widyani mengaku, untuk wilayah Narmada, masuk zona merah tambang illegal. Sebagian sudah tak beroperasi. Seperti di Sesaot dan Lingsar banyak tambang tidak memiliki izin. Pihaknya pun turun menertibkan satu per satu. Namun karena keterbatasan armada, pihaknya berkoordinsi dengan camat dan desa. Pihaknya meminta agar tambang distop, dan penerbitan rekomendasi juga dihentikan sesuai dengan SE Gubernur NTB. (her)