Warga Kediri Keluhkan Air PDAM Macet Tiap Hari

0
Warga Sedayu yang mengeluhkan kondisi air PDAM yang macet. Warga merasa dirugikan karena harus membayar mahal sementara pelayanan dinilai buruk.

Giri Menang (Suara NTB) – Warga Dusun Sedayu Tengah Desa Kediri Selatan mengeluhkan air PDAM hampir tiap hari macet. Air hanya mengalir pada waktu tertentu, yakni pada malam hari bahkan dini hari. Akibatnya, warga pun terpaksa begadang hanya untuk menunggu menampung air. Setelah masuk waktu subuh, air tak mengucur hingga malam hari. Sementara warga sendiri tetap membayar dengan jumlah yang lumayan besar, puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah.

Warga Sedayu Tengah, Nuraini mengaku hampir tiap hari air PDAM di rumahnya macet. “Setiap Hari macet air pdam ini, ngalirnya tengah malam bahkan dini hari. Kami pun terpaksa begadang tiap hari untuk tampung air, karena mulai subuh sampai sore bahkan malam hari airnya ngadat lagi,”tutur ibu rumah tangga ini, Jumat, 11 Oktober 2019.

IKLAN

Akibat ngadatnya kondisi air PDAM ini, sangat menganggu kegiatan sehari – hari karena tidak ada untuk keperluan memasak, mandi, mencuci, dan lain-lain. Apalagi kata dia, ada beberapa keluarganya yang membuka usaha laundry terganggu akibat tidak ada air. Menyiasati air PDAM macet ini, sebagian warga membuat sumur sendiri. Akan tetapi terkadang juga airnya kecil akibat musim kemarau yang melanda sampai saat ini.

Ia mengaku sangat dirugikan dengan pelayanan PDAM. Pasalnya, air ngucur pada waktu dini hari akan tetapi ia tetap membayar tinggi. Dalam sebulan rata-rata ia membayar hingga Rp 180-200 ribu. Padhal air pdam ini hanya dipakai oleh untuk mandi, mencuci. Bahkan kata dia, ia pernah membayar Rp 600 ribu satu bulan. Kenapa bayar nya mahal sekali? Ia mengaku tidak tahu. Ia pun sudah mengkonfirmasi pihak pdam namun alasannya pembayaran sudah sesuai.

Menanggapi keluhan warga Kediri ini, Dirut PDAM Giri Menang HL Ahmad Zaini tak menampik. “Ya memang begitu kondisinya, Mudah-mudahan segera mulai musim hujan,” jelas dia. Ia menjelaskan, kondisi ini disebabkan sekarang ini debit sumber Lembah Sempage turun dratis dari awal 120 liter per detik turun menjadi 70 liter per detik.

Kondisi kata dia, terjadi beberapa bulan terakhir. Pihaknya juga sudah mencoba menambah dari sistem Mataram akan tetap saja masih kurang. Hal ini diakibatkan posisi sistem mataram juga tidak cukup. Ditambah lokasi daerah Sedayu agak tinggi secara topografi.

“Saya sudah ajukan sumur bor di kantor PDAM Kediri, tapi tidak di izinkan warga, upaya lain yang sedang kami lakukan adalah mengusulkan ke pemerintah pusat untuk menambah kapasitas remeneng menjadi 2 kali lipat dan pengolahan Sungai Dodokan, Mudah-mudahan bisa terrealisasi biar permasalahan ini bisa teratasi, “tegas dia.

Ia menambahkan untuk Spam remeneng Narmada disuplay untuk daerah Labuapi, Perempuan dan sebagian membantu gerung termasuk juga membantu suplay ke Kediri sebagian. Hanya saja karena daerah Sedayu dan sekitarnya posisinya lebih tinggi sehingga tidak sampai sana. (her)

Warga Sedayu yang mengeluhkan kondisi air PDAM yang macet. Warga merasa dirugikan karena harus membayar mahal sementara pelayanan dinilai buruk.

Menang (Suara NTB) – Warga Dusun Sedayu Tengah Desa Kediri Selatan mengeluhkan air PDAM hampir tiap hari macet. Air hanya mengalir pada waktu tertentu, yakni pada malam hari bahkan dini hari. Akibatnya, warga pun terpaksa begadang hanya untuk menunggu menampung air. Setelah masuk waktu subuh, air tak mengucur hingga malam hari. Sementara warga sendiri tetap membayar dengan jumlah yang lumayan besar, puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah.

Warga Sedayu Tengah, Nuraini mengaku hampir tiap hari air PDAM di rumahnya macet. “Setiap Hari macet air pdam ini, ngalirnya tengah malam bahkan dini hari. Kami pun terpaksa begadang tiap hari untuk tampung air, karena mulai subuh sampai sore bahkan malam hari airnya ngadat lagi,”tutur ibu rumah tangga ini, Jumat, 11 Oktober 2019.

Akibat ngadatnya kondisi air PDAM ini, sangat menganggu kegiatan sehari – hari karena tidak ada untuk keperluan memasak, mandi, mencuci, dan lain-lain. Apalagi kata dia, ada beberapa keluarganya yang membuka usaha laundry terganggu akibat tidak ada air. Menyiasati air PDAM macet ini, sebagian warga membuat sumur sendiri. Akan tetapi terkadang juga airnya kecil akibat musim kemarau yang melanda sampai saat ini.

Ia mengaku sangat dirugikan dengan pelayanan PDAM. Pasalnya, air ngucur pada waktu dini hari akan tetapi ia tetap membayar tinggi. Dalam sebulan rata-rata ia membayar hingga Rp 180-200 ribu. Padhal air pdam ini hanya dipakai oleh untuk mandi, mencuci. Bahkan kata dia, ia pernah membayar Rp 600 ribu satu bulan. Kenapa bayar nya mahal sekali? Ia mengaku tidak tahu. Ia pun sudah mengkonfirmasi pihak pdam namun alasannya pembayaran sudah sesuai.

Menanggapi keluhan warga Kediri ini, Dirut PDAM Giri Menang HL Ahmad Zaini tak menampik. “Ya memang begitu kondisinya, Mudah-mudahan segera mulai musim hujan,” jelas dia. Ia menjelaskan, kondisi ini disebabkan sekarang ini debit sumber Lembah Sempage turun dratis dari awal 120 liter per detik turun menjadi 70 liter per detik.

Kondisi kata dia, terjadi beberapa bulan terakhir. Pihaknya juga sudah mencoba menambah dari sistem Mataram akan tetap saja masih kurang. Hal ini diakibatkan posisi sistem mataram juga tidak cukup. Ditambah lokasi daerah Sedayu agak tinggi secara topografi.

“Saya sudah ajukan sumur bor di kantor PDAM Kediri, tapi tidak di izinkan warga, upaya lain yang sedang kami lakukan adalah mengusulkan ke pemerintah pusat untuk menambah kapasitas remeneng menjadi 2 kali lipat dan pengolahan Sungai Dodokan, Mudah-mudahan bisa terrealisasi biar permasalahan ini bisa teratasi, “tegas dia.

Ia menambahkan untuk Spam remeneng Narmada disuplay untuk daerah Labuapi, Perempuan dan sebagian membantu gerung termasuk juga membantu suplay ke Kediri sebagian. Hanya saja karena daerah Sedayu dan sekitarnya posisinya lebih tinggi sehingga tidak sampai sana. (her)