Warga Kampung Adat Limbungan Sebagian Besar dalam Kondisi Pra Sejahtera

Selong (Suara NTB) – Ratusan kepala keluarga yang menghuni kampung adat Limbungan Desa Prigi Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dalam kondisi pra sejahtera. Sebagian besar penduduk yang mencoba mempertahankan adat istiadatnya ini disebut berada pada kondisi miskin.

Demikian pengakuan Kepala Desa Prigi, Darmawan saat ditemui di Kompleks Rumah Limbungan, Selasa, 14 Maret 2017. Desa Prigi, ujarnya, dihuni 2.500 Kepala Keluarga  (KK) dan 1.750 di antaranya merupakan keluarga pra sejahtera, termasuklah warga Dusun Limbungan baik yang ada di Barat maupun Limbungan Timur.

Iklan

Darmawan mengutarakan, khusus Kampung Adat Limbungan merupakan warga yang mengantungkan hidup pada aktivitas budidaya pertanian. Pada situasi musim hujan dewasa ini, petani kampung Adat Limbungan ini bisa melakukan aktivitas bercocok tanam. Di mana, sebagain besar sawah merupakan sawah tadah hujan.

Tingkat kepemilikan lahan berkisar 0,5-1 hektar per KK. Luasan lahan areal tadah hujan itu jelas hanya bisa menghasilkan saat musim hujan. Menanam sekali dalam setahun. Saat musim hujan saja. Selebihnya, selama musim kemarau, petani hanya bisa nganggur di rumah  tanpa ada aktivitas apapun.

Musim hujan tahun ini disebut mengguyur selama 1,5 bulan terakhir. Pihaknya mengharap hujan tetap turun, sehingga petani bisa memetik hasil panennya. Tidak seperti tiga sampai empat tahun terakhir, petani Limbungan banyak mengalami kegagalan panen. ‘’Terparah tahun 2016 lalu, semua lahan pertanian tidak bisa ditanami. Petani gagal tanam dan tidak bisa berbuat apa-apa,’’ akunya.

Warga Limbungan, Jumain yang juga anggota Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) Prigi  mengakui fakta kondisi ekonomi masyarakat adat Limbungan. Saat ini, petani bisa menanam padi dan jagung di lahan-lahan tadah hujan miliknya. Harapannya, selama musim tanam ini petani bisa mendapatkan hasil yang memadai, sehingga tidak kering dibawa ke lumbung-lumbung adat yang ada di depan rumah masing-masing.

Di tengah himpitan ekonomi masyarakat adat Limbungan, tradisi adat ini tetap menjadi panutan. Termasuk dalam hal bercocok tanam. Disebut ada istilah mandaq, yakni semua warga tidak diperkenankan memulai bercocok tanam sebelum ketua adat memulai.

Ketaatan terhadap ketentuan adat mandaq ini sangat dipatuhi warga. Karena jika dilanggar, akan terkena bahla yakni sebuah kejadian buruk yang dialami warga sebagai sanksi yang diyakini hukuman atas pelanggaran adat tersebut.

Semua warga pun tidak  berani melangkahi ketentuan adat itu. Selain dalam bercocok tanam, ketentuan mengikuti hukum adat ini juga berlaku saat melakukan kegiatan-kegiatan kampung. Ada istilah Sesiru yakni sebuah proses pengambilan keputusan yang dipimpin oleh ketua adat.

Salah satu keputusan dari Sesiru itu adalah tidak boleh membangun rumah beton di dalam lingkungan rumah adat. Warga Limbungan yang ingin membangun fisik bangunan rumah selain berbentuk rumah adat, harus keluar dari linkungan rumah adat. Rumah adat tidak boleh campur aduk dengan bangunan beton. Pun oleh ketua adat sudah diberikan batasan kawasan yang boleh di bangun beton maupun yang khusus rumah adat dengan bahan-bahan bangunan khas adat Sasak Limbungan.

Diketahui, sejumlah rumah adat Limbungan Barat dan Timur ini sudah direnovasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lotim (Disbudpar). Ada anggaran sebesar Rp 2,5 miliar digelontorkan untuk pembangunan sejumlah unit rumah adat. Hanya saja dengan anggaran tersebut tidak bisa menyentuh 84 unit rumah adat di Limbungan Barat dan 71 unit rumah adat di limbungan Timur.

Harapan Jumain, semua rumah adat ini bisa disentuh oleh bantuan pemerintah. Beberapa waktu lalu diketahui ada bantuan juga dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) namun hasilnya dinilai Kepala Desa Darmawan, kurang memuaskan.

Warga berharap bantuan penataan rumah ini  bisa rampung semua. Karena masyarakat adat sendiri tidak bisa membangun rumahnya karena terbentur persoalan material bangunan. Saat ini, bahan dasar pembuatan atap bangunan dari ilalang sangat susah dicari. Kalaupun ada harganya cukup mahal. (rus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here