Warga Hentikan Pengeboran Air Baku PT Air Minum Giri Menang

Warga melakukan aksi demonstrasi di lokasi pengeboran air baku milik PT Air Minum Giri Menang. (Suara NTB/ist)

Giri menang (Suara NTB) – Proyek pengeboran milik PT. Air Minum Giri Menang (Perseroda) yang tengah dikerjakan di Desa Lebah Sempaga didemo warga Desa. Aksi demo sekaligus pemboikotan yang terjadi Sabtu, 9 Mei 2020 di lokasi proyek.

Aksi ini dipicu tindakan pihak perusahaan dan kontraktor, yang dinilai tidak transparan dalam pelaksanaan proyek. Warga sangat geram lantaran proyek pengeboran air baku tidak pernah disosialisasikan, khususnya terkait pengerjaan proyek tersebut. Warga pun mendesak proyek tersebut dihentikan sementara waktu.

Iklan

“Aksi ini dilakukan warga karena imbas dari Pemerintah desa dan Perseroda tidak melakukan sosialisasi dan meminta persetujuan warga, terhadap keberadaan proyek itu,” ujar warga Nasri.

Bahkan pada saat pelaksanaan proyek di mulai hingga pengeboran mencapai kedalaman 112 meter, papan informasi proyek tidak pernah dipanelkan oleh pelaksana proyek. Sehingga memunculkan asumsi bahwa pekerjaan proyek diduga siluman.

“Kami protes keberadaan Proyek itu. yang anehnya lagi, Kenapa bisa muncul berita acara persetujuan keberadaan proyek yang ditandatangani kepala Desa dan BPD. Nilai proyeknya saja kami tidak mengetahuinya,” cetusnya.

Meskipun lahan di lokasi proyek, milik perusahaan, lokasi itu masih masuk wilayah Desa. Tentunya lintas koordinasi antara Perusaan Air minum, Pemerintah Desa dan kontraktor semestinya disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat, sebelum menandatangani surat persetujuan di atas materai.

Pernyataan senada juga disampaikan Sahnan. Menurutnya, Keberadaan proyek ini telah memunculkan indikasi adanya kecacatan pemerintah terhadap implementasi tata laksana administrasi proyek. Sudah menjadi kewajaran, di tengah ancaman pandemi Covid 19, warga memaksakan diri untuk turun ke lokasi proyek demi tegaknya aturan.

Di sisi lain, apabila pengeboran proyek air selesai dan air mulai disuplai ke sejumlah wilayah, diprediksi dapat mengurangi volume air di wilayah desa. Sehingga memicu berkurangnya volume air untuk warga di desa setempat.

“Kami sebagai masyarakat meminta pemerintah desa hentikan pekerjaan proyek. Supaya kondisi masyarakat tidak diributkan perilaku oknum di lingkup pemerintah,” tutupnya.

Kades lembah Sempage, Mohammad Adi mengatakan aksi warga untuk menanyakan soal perizinan. Masalah perizinan, dia menerangkan ke warga bahwa desa tidak berwenang mengeluarkan izin. Namun yang punya kewenangan adalah Pemerintah daerah.

“Desa tak berwenang mengeluarkan izin, pihak PDAM hanya betabek (pemberitahuan) ke desa,” ujar dia.

Awal mula pengeboran jelas dia, pihaknya tidak memutuskan sendiri. Namun ia mengumpulkan Ketua BPD, Anggota BPD, Ketua LPM dan beberapa Kadus untuk membahas bersama. Keputusan ini diambil secara musyawarah, tidak hanya diputuskan olehnya.

Akhirnya, PDAM pun membuat berita acara pertemuan ini. Meski demikian ia dan warga tetap bersikukuh jangan dilakukan pengeboran, namun pihaknya kalah dengan aturan lebih tinggi. Pihak PDAM pun menjamin pengeboran tak menggangu air permukaan.

Kalaupun air permukaan terganggu, maka pengeboran akan dihentikan. Selang beberapa pekan, alat berat pun didatangkan untuk pengeboran. Hanya saja dalam tataran eksekusi pengeboran justru Pihak PDAM kurang sosialisasi ke masyarakat, sehingga memicu keributan.

“Karena itu warga demo untuk menuntut pengeboran diberhentikan, kami sudah bersurat ke PDAM dan tembusan ke ketua DPRD, kecamatan, Polsek agar pengeboran diberhentikan dulu untuk keamanan,” jelas dia. Saat ini Pengerjaan pengeboran di lapangan sudah dihentikan sementara waktu.

Minggu malam, lanjut dia, terjadi aksi perampokan oleh orang tak dikenal di lokasi proyek pengeboran. Pihak desa pun sudah melaporkan kejadian ini ke Polsek. Pihak kepolisan pun sudah turun melakukan penanaman di lapangan.

Sementara itu, Dirut PT Air Minum Giri Menang HL Ahmad Zaini membenarkan bahwa hari sabtu ada warga bertanya tentang ijin pengeboran. “Sudah dijawab sudah ada izinnya dan sudah sosialisasi di desa,” tegas dia. Selain itu, aksi menimpa justru terjadi di lokasi pengeboran. Dimana korbannya adalah para pekerja. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional