Warga Gangga Keluhkan Pembuangan Limbah ke Tengah Laut

Tanjung (Suara NTB) – Dugaan pembuangan limbah ke tengah laut oleh perusahaan yang bergerak di budidaya perikanan (tambak udang) mulai dikeluhkan warga sekitar. Informasi yang disampaikan warga, akibat limbah yang dialirkan melalui pipa ke tengah laut menimbulkan bau dan mengganggu aktivitas warga yang ada di sekitar Pantai Montong Pal, Dusun Montong Pal, Desa Rempek, Kecamatan Gangga.

Salah seorang warga, Sekradi, warga Dusun Lempenge, Desa Rempek, Kamis, 6 April 2017 mengungkapkan limbah dari aktivitas budidaya tambak udang dialirkan ke tengah laut oleh perusahaan. Kondisi ini cukup mengganggu aktivitas warga sekitar.

Iklan

“Sangat mengganggu warga setempat karena bau busuk yang diakibatkan limbah tambak udang tersebut langsung dibuang ke laut,” katanya.

Diakuinya, keluhan masyarakat ini sudah disampaikan ke pemerintah desa dan pihak pengelola tambak udang. Namun tidak ada respons yang diperoleh warga sampai saat ini.

Warga lainnya, Ruspendi selaku tokoh pemuda sekaligus warga Dusun Rempek, membenarkan warga sekitar terganggu dengan aktivitas tambak yang menimbulkan limbah. Menurutnya, pembuangan limbah menimbulkan bau busuk yang menyengat. Pihaknya mengkhawatirkan terjadi pencemaran lingkungan (laut) karena limbah tersebut langsung di buang ke laut. “Kami mengharapkan ada kajian akademisi terhadap limbah tersebut yang diperjelas ke masyarakat,” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta agar SKPD terkait di Pemkab Lombok Utara menindaklanjuti keluhan warga yang disampaikan melalui media. Jika dari hasil uji teknis SKPD ditemukan pembuangan limbah ke laut secara sembarangan, maka Pemkab diminta memberi tindakan tegas.

Hingga berita ini diturunkan, pihak perusahaan pengelola tambak udang Dusun montong Pal, PT. Global Gen belum bisa dikonfirmasi. Selama beroperasi, kecenderungan perusahaan yang tertutup dari publik kerap dikeluhkan.

Terpisah, Kepala Bidang Lingkungan Hidup pada Dinas LH, Perumahan dan Permukiman Lombok Utara, Drs. Rusdianto mengaku belum mengetahui keluhan warga tersebut. Namun demikian ia tak membantah bahwa sejak beroperasi tahun 2012, aktivitas tambak pernah dikeluhkan. “Dulu sempat ada keluhan karena pipa bocor, sampai di aliran pembuangan ditemukan udang yang mati,” klaimnya.

Ia meminta agar masyarakat yang mengeluhkan aktivitas tambak untuk bersurat secara resmi ke dinas. Dasar surat itulah, nantinya dinas akan memanggil perusahaan.

“Dalam pengolahan limbah, apabila limbah dibuang setelah diolah dan tidak melampaui baku mutu sih tidak masalah. Sebaliknya kalau tidak diolah dan langsung dibuang, pasti akan berdampak. Kalau memang ada hal seperti itu silakan dilaporkan, kami akan tindaklanjuti,” demikian Rusdianto. (ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here