Warga di Beberapa Daerah di Lobar Terancam Krisis Pangan

Kondisi lahan pertanian warga di Kuripan terdampak kekeringan, sehingga tidak bisa ditanami tiap tahun. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Dampak kekeringan di Lombok Barat (Lobar) sangat dirasakan oleh masyarakat. Selain mengakibatkan warga mengalami krisis air bersih, kekeringan ini juga melanda lahan pertanian warga, sehingga menyebabkan sedikitnya ada 50 hektare lahan pertanian warga yang terdampak kekeringan tak bisa ditanami. Kondisi ini diikhawatirkan mengakibatkan warga terancam krisis pangan.

Kepala Desa Giri Sasak Kecamatan Kuripan Hamdani mengakui, terdapat puluhan hektare bahkan ratusan hektare lahan di desanya terdampak kekeringan tiap tahun. “Itu kalau musim kemarau tiap tahun tidak bisa ditanami warga,” ungkapnya, Selasa, 29 September 2020.

Iklan

Kondisi ini menyebabkan warganya rawan krisis pangan, ditambah lagi dengan kondisi pandemi saat ini melanda. Ia mengaku dari enam dusun 50 persen dusun-dusun tersebut saat ini terdampak kekeringan. Beberapa dusun dilanda kekeringan, seperti Dusun Tanak Putek, Perendekan Utara.

Kondisi ini, ujarnya, menambah beban warganya di tengah kondisi Corona ini. “50 persen daerah kami dilanda kekeringan, ditambah lagi Corona ini menambah susah warga kami. Karena memang kondisi ekonomi ini begitu terdampak,” terangnya.

Untuk mengatasi kekeringan ini, masih sebatas dilakukan droping air oleh pemda. Beberapa kali dilakukan pengiriman air ke daerahnya baik oleh BPBD, Damkar dan instansi terkait lainnya. Tahun ini pihaknya mendapatkan program Pamsimas menyasar dua dusun, yakni Dusun Lendang Sedi, dan Buntage. Jumlah KK yang bisa terlayani diperkirakan mencapai kurang lebih 300 KK atau 900-1000 jiwa. Adanya program ini tidak lagi merepotkan pemda untuk distribusi air, namun ia berharap bantuan kendaraan roda tiga yang ada tangki (tandon) air untuk mempermudah suplai air ke masyarakat.

Pamsimas yang berasal dari bantuan provinsi ini dibangun dengan nilai Rp 200 juta dengan kedalaman 70 meter dilengkapi pipa dan penampungan air.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lobar H. Muhur Zukhri menjelaskan, luas lahan pertanian yang terdampak kemarau panjang sekitar 50 hektare lahan pertanian. Lahan tersebut tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Lombok Barat, dengan kondisi kekeringan, katagori sedang dan ringan.

Lahan tersebut ada di Desa Batu Putih Sekotong sebanyak 16 hektare. Tiga hektare ada di Desa Mareje, sisanya ada di Kuripan Timur dan Giri Sasak. Sedangkan yang ada di Desa Banyurip belum masuk laporannya dari petugas lapangan di UPTD Pertanian Kecamatan Gerung. “Yang dari Banyurip belum masuk datanya, hari ini saya akan minta di petugas UPT,” imbuhnya.

Kondisi kekeringan yang 50 hektar sudah bisa dibantu, atau ditanggulangi dengan diberikan bantuan-bantuan pompa air, dan pembangunan embung sumur dangkal, bahkan sudah ada  yang bisa dipanen di lahan tersebut. (her)