Walikota Mataram Sebut Genangan Dipicu Drainase Dangkal

Mataram (suarantb.com) – Menanggapi genangan yang melanda hampir di seluruh wilayah Kota Mataram pada Sabtu, 10 Desember 2016 lalu, Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh mengakui kondisi saluran drainase yang ada di Kota Mataram masih dangkal dan belum dinormalisasi seluruhnya. Akibatnya, volume air yang cukup besar tak tertampung maksimal sehingga muncul genangan.

Selain itu, kontur tanah Kota Mataram yang berada di paling ujung barat Pulau Lombok lebih rendah dibanding wilayah-wilayah kabupaten/kota lain, sehingga Kota Mataram berisiko lebih tinggi mengalami banjir dibanding daerah lain. Sebab, sebagaimana sifat air yang selalu menuju dataran yang lebih rendah, Kota Mataram sebagai wilayah dengan kontur tanah rendah mendapatkan aliran air yang cukup besar. Sementara sungai-sungai yang ada di Kota Mataram tidak cukup menampung volume air, sehingga terjadi luapan yang berakibat banjir di permukiman dekat wilayah sungai.

Iklan

“Kita akui itu, kemarin itu karena memang curah hujan yang sangat besar. Dan konsekuensi dari Kota Mataram yang berada di paling ujung barat, kalau dilihat kontur tanah paling rendah,” paparnya, Selasa, 13 Desember 2016.

Saluran drainase banyak yang belum dikeruk atau normalisasi karena berada di tengah permukiman warga. Alat berat milik Dinas PU tak bisa menjangkau lingkungan-lingkungan yang padat penduduk. “Belum bisa kita normalisasi karena kondisi lingkungan yang ada di situ tidak memungkinkan alat-alat untuk masuk, maka sekarang ini kita sedang mencari alat yang bisa menyedot sedimen,” ungkap Ahyar.

Mengenai alat penyedot sedimen tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU), H. Mahmudin Tura mengatakan telah mengajukan proposal ke Dirjen Cipta Karya. Ia mengatakan, saat ini pihaknya masih terus melakukan lobi untuk bisa mendapatkan alat penyedot sedimen seharga Rp 8 miliar tersebut. Sebab, dari Dirjen Cipta Karya sendiri hanya menyumbangkan dua unit alat penyedot untuk daerah.

“Jadi berebut kita untuk minta itu, karena harganya Rp 8 miliar, mau beli kan ndak mampu kita,” ungkap Mahmuddin.

Ia menerangkan alat tersebut dapat menyedot saluran-saluran yang mengalami sedimentasi yang tidak terjangkau oleh alat berat. Beban yang dapat ditampung alat tersebut sebesar 10 kubik dalam sekali angkut. Namun saat ini, Pemkot Mataram masih menunggu persetujuan dari Dirjen Cipta Karya untuk mendapatkan alat tersebut.

“Kalau memang mampu anggaran kita, ya kita beli. Cuma ya harganya Rp 8 miliar,” pungkasnya. (rdi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here