Walikota Berkomitmen Tuntaskan Kawasan Kumuh

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh didampingi istri Hj. Suryani serta Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Direktorat Jenderal Cipta Karya KemenPUPR, Ika Sri Rejeki mengunjungi Taman Bakau yang merupakan program penataan kawasan kumuh di Kota Mataram. Kelurahan Ampenan Tengah dan Pejeruk menjadi salah satu lokasi penataan. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Walikota Mataram H. Ahyar Abduh di masa akhir jabatan tetap komitmen menuntaskan pemukiman kumuh di Mataram. Salah satu intervensinya melalui program kota tanpa kumuh (Kotaku) bekerjasama dengan pemerintah pusat.

Kawasan yang dikunjungi Walikota bersama Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Ika Sri Rejeki, Sekretaris Daerah Dr. H. Effendi Eko Saswito serta pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), camat dan lurah adalah penataan lingkungan di sepadan sungai mulai dari Kelurahan Pejeruk sampai Taman Bakau di Kelurahan Ampenan Tengah.

Iklan

Ahyar berjalan kaki mulai dari Jembatan Dasan Agung sampai di lingkungan Sukaraja. Ornamen di sepanjang aliran sungai Jangkok tersebut dinilai cukup bagus dan menghabiskan anggaran cukup besar. “Iya, ini memang program saya sejak dulu. Kita mulai membebaskan lahannya dan ditata oleh pemerintah pusat,” kata Walikota, Jumat, 16 Oktober 2020.

Tujuh kelurahan telah diintervensi melalui program Kotaku. Progam ini termasuk dalam program pengentasan permukiman kumuh. Walikota menegaskan, pengentasan permukiman kumuh telah menjadi komitmen serta janji politiknya untuk menyambung sepanjang Jalan Udayana sampai Jembatan Ampenan.

Pemerintah pusat melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR telah melakukan penataan dengan bagus. Salah satunya Taman Bakau di Kelurahan Ampenan Tengah. Lokasi ini diharapkan Walikota dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan dalam bentuk kesenian atau hiburan rakyat. “Ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata, karena desainnya sangat menarik,” terangnya.

Ahyar menambahkan, jalan bagian selatan rencananya akan dibebaskan dan ditata, tetapi terkendala anggaran. Untuk menata kawasan ini saja membutuhkan anggaran cukup besar. “Iya, bertahap. Yang penting janji saya menghubungkan sepanjang Jalan Udayana sampai Jembatan Ampenan sudah selesai,” tandasnya.

Aksi vandalisme rawan terhadap fasilitas publik. Balai Prasarana Permukiman telah membentuk badan sebagai pengelola dan menjaga fasilitas tersebut. Disamping itu, Pemkot Mataram juga akan menganggarkan biaya pemeliharaan setiap tahunnya. (cem)