Walikota Akui Kos-kosan di Mataram Masih Rawan Jadi Lokasi Prostitusi

H. Ahyar Abduh (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Beberapa lokasi kos-kosan diduga masih rawan dijadikan lokasi prostitusi. Keadaan itu mendapatkan atensi khusus dari Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh. Ia pun meminta semua camat dan lurah, Satpol PP dan Kepolisian Kota Mataram untuk melakukan pemantauan di lapangan dengan ketat.

Dikonfirmasi Suara NTB, Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh membenarkan keadaan tersebut.

Iklan

“Ada di beberapa tempat (kos-kosan, red) di Mataram yang masih rawan, tapi lurah yang berada di lokasi itu, kita minta juga tanggungjawabnya untuk melakukan pemantauan dan pengamanan,” katanya, Kamis, 6 Februari 2020.

Menurut Ahyar, beberapa lokasi yang diduga masih rawan dijadikan lokasi prostitusi agar segera dilakukan pemantauan ke lapangan.

Baik dari lurah, camat, Satpol PP dan kepolisian. ‘’Jika benar adanya dugaan tersebut agar segera menertibkan lokasi-lokasi ini. Kita minta dipantau terus dan ditertibkan,” jelasnya.

Terkait dugaan beberapa lokasi kos-kosan yang masih rawan dijadikan tempat prostitusi jelas Ahyar, harus segera dilakukan pemantauan dan penertiban. Baik di wilayah Cakranegara, Mataram, Selaparang, Sandubaya, dan Sekarbela.

Di tempat terpisah, Lurah Sapta Marga, Gusti Bagus Ryan Winardi mengatakan, beberapa lokasi di wilayahnya memang diduga masih rawan dijadikan lokasi prostitusi.

Sejak penangkapan yang dilakukan Polresta Mataram beberapa waktu lalu terkait kasus narkoba, pelaku juga kedapatan bersama wanita tanpa ada ikatan pernikahan.

“Memang saya akui, beberapa kos-kosan di Sapta Marga masih rawan. Apalagi di kawasan Jalan Lingsar itu masih sangat rawan,” kata Ryan kepada Suara NTB. Ia pun akan menindaklanjuti kawasan itu dengan melakukan pemantauan secara intens.

Dijelaskan Ryan, pihaknya akan segera mendata beberapa lokasi kos-kosan di wilayahnya. Ia meminta bantuan Kecamatan Cakranegara untuk melakukan pendataan di wilayahnya.

Pendataan itu, jelas Ryan, untuk menyisir siapa saja yang mendiami kos-kosan agar memudahkan pengawasan. Juga, RT dan Kepala Lingkungan setempat harus ikut ambil bagian. Agar, semua pemilik kos-kosan didata dan diserahkan ke kelurahan.

Dari data itu, kata Ryan, dinilai bisa memudahkan pihaknya melakukan pemantauan jika terjadi hal-hal yang merujuk pada ketidaknyamanan warga setempat.

“Kita permaklumkan saja sama RT dan Kalingnya untuk segera mendata semua lokasi kos-kosan itu,” katanya.

Selain itu juga, pihaknya akan segera membuat aturan baku ke semua pemilik kos-kosan. Salah satu aturan tersebut, semua pemilik kos-kosan harus melaporkan semua warga yang ditnggal di kos-kosannya.

“Dengan adanya tata tertib tadi, kita perintahkan untuk membuat laporan wajib ke kelurahan terkait siapa saja yang ngekos, dan bagaimana kondisi kos-kosannya,” pungkasnya.

Ia meminta pengusaha kos-kosan untuk selalu mematuhi peraturan Pemkot Mataram. Penghuni kos yang terjaring razia akibat adanya dugaan prostitusi, pihaknya tak segan-segan akan menutup kos-kosan tersebut.

“Kalau sudah kita pantau dan melakukan mediasi bentuk imbauan tapi tetap ditemukan juga, terpaksa kita akan tutup saja usahanya,” katanya. Ada pun lokasi kos-kosan yang diduga rawan dijadikan lokasi prostitusi di Kelurahan Sapta Marga ialah kos-kosan di Jalan Suradadi, Jalan Mayura, Jalan Arca, dan kos-kosan yang berada di Jalan Lingsar. (viq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here