Wabup Lobar Sorot Melonjaknya Kasus HIV/AIDS di Lobar

Wabup Lobar Hj. Sumiatun bersama Sekretaris KPA Lobar dan jajaran saat membahas penanganan HIV AIDS akhir pekan kemarin. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Wakil Bupati (Wabup) Lombok Barat (Lobar), Hj Sumiatun menyoroti tingginya kasus HIV/AIDS di daerah itu. Lonjakan kasus ini begitu mengkhawatirkan di beberapa kecamatan, lantaran kasusnya terus meningkat tiap tahunnya. Bahkan beberapa warga terjangkit meninggal dunia.

“Tinggi kasus HIV/AIDS di Lobar ini, terutama beberapa kecamatan. Saya sudah panggil Kepala Dikes, Direktur Rumah Sakit Tripat Gerung, dan Rumah Sakit Narmada. Setelah dilakukan pembahasan, ternyata ada beberapa yang kurang dalam hal penanganan,” terang wabup yang juga Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Lobar Hj. Sumiatun akhir pekan kemarin.

Iklan

Ia melihat dari sisi jumlah kasus HIV/AIDS, beberapa kecamatan yang lumayan tinggi di antaranya Batulayar dan Gerung dan Sekotong. Untuk itu ia pun menekankan perlu penanganan ke depan lebih intensif oleh OPD terkait. “Kendala kita juga tenaga kurang, harus kita koordinasikan dengan rumah sakit, siapa yang akan menjadi petugas. Dalam pelayanan harus pakai APD mencegah penularan,” jelasnya.

Menurutnya, jangan sampai ada diskriminasi soal penanganan pasien HIV/AIDS, karena sejauh ini belum ada ruang khusus untuk pasien HIV/AIDS, sehingga mereka pun masih gabung dengan pasien umum lainnya. Kondisi ini rawan terjadi penularan. Dalam hal penanganan pasien positif HIV/AIDS khususnya yang melahirkan belum bisa ditangani di rumah sakit di Lobar. Namun mereka harus dibawa ke Rumah  Sakit Provinsi.  “Ke depan mereka akan ditangani di sini. Obatnya juga harus diupayakan di puskesmas, Jangan hanya di satu tempat (rumah sakit Tripat red),” terang dia.

Sekretaris KPA Lobar, HM. Djunaidi mengatakan data sementara sampai bulan Juli (selama pandemi) baru ditemukan kasus HIV 7 kasus sedangkan kasus AIDS nol. Tujuh kasus itu terindikasi di RSUD Gerung 4 kasus dan Rumah Sakit Provinsi 3 kasus. “Secara akumulasi, selama pandemi justru tren menurun karena masyarakat takut memeriksakan diri,” terang dia.  (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional