Verifikasi CPCL , Ditemukan 300 Ha Lahan Bawang Putih Fiktif di Sembalun

Tanaman bawang putih Sembalun. (Suara NTB/dok)

Selong (Suara NTB) – Tahun 2019 ini di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) kembali mendapatkan bantuan bibit untuk budidaya bawang putih di atas lahan selus 1.642 hektare (ha). Seluas 1.100 ha ada di Sembalun dan 542 di bawah Sembalun yang potensial sebagai tempat menanam bawang putih. Sebelum penyerahan bantuan, ditemukan fakta seluas 300 ha lahan di Sembalun diduga fiktif.

Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Lotim, H. Rumaksi yang juga ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB. Disebut sesuai hasil verifikasi seluas 1.100 ha di Sembalun ditemukan yang riil ada lahannya dan jelas pemiliknya sebanyak 800 ha. Sisanya tidak diketahui datangnya.

Iklan

Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) sebelum diberikan bantuan bibit bawang putih untuk ditanam di atas lahan seluas 1.642 ha itu terlebih dahulu diverifikasi. Langkah ini dilakukan dengan melibatkan aparat TNI dan Polri. Temuan ratusan ha fiktif ini katanya bisa menyelamatkan keuangan negara. “Kalau sampai diberikan berapa miliar itu yang menguap,” ucapnya.

Penananam bawang putih mulai tahun 2019 ini diinginkan bisa dilakukan dengan kejujuran. Data menjadi lebih valid. Karenanya dalam penentuan lokasi ini ditetapkan dangan melihat titik koordinat langsung dan diketahui jelas keberadaan dari para petaninya.

“Jadi saat dilakukan verifikasi, pemilik lahan yang tercatat di 300 ha itu tidak ada yang datang jadi tidak mungkin kita bisa berikan bantuannya,” ungkap Rumaksi menambahkan. “Masa mau dibakarkan kemenyan kalau tidak ada,” candanya.

Munculnya lahan fiktif itu diduga kesalahan dalam pendataan. Terlepas dari adanya indikasi permainan agar dapat bantuan atau tidak. Keinginan Wabup, hasil budidaya bawang putih ini bisa lebih jelas dari mana dan dan kemana produksi nantinya.  “Bisa iya bisa tidak tergantung manusianya,” ungkap Rumaksi saat diminta tanggapannya ada dugaan permainan di balik pengadaan bibit bawang putih tersebut.

Untuk itu, ia menegaskan kepada Dinas Pertanian untuk bisa lebih berhati-hati dan tidak main-main dalam pendataan. Sumber data bisa datang dari bawah yang dilaporkan ke Dinas Pertanian. Karena itu diperlukan proses verifikasi agar data yang dihasilkan bisa lebih riil dan jelas.

Kepada semua petani pemilik lahan sudah diminta untuk melampirkan bukti Surat Penagihan Pajak Terhutang (SPPT) atas lahan yang diklaim sebagai lahan tempat menanam bawang putih tersebut. “Itulah yang dipersyaratkan dengan melampirkan SPPT. Semua supaya lengkap datanya, ada CPCL tapi sawah tidak punya,” demikian Rumaksi. (rus)