Vaksinasi Ibu Hamil Terkendala Izin Suami

Petugas kesehatan menyuntik vaksin ibu hamil, pekan kemarin. Program vaksin hamil belum bisa berjalan mulus. Faktor pemahaman serta izin suami menjadi kendala. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Program vaksinasi ibu hamil di Kota Mataram belum berjalan mulus. Kekhawatiran serta ketidakpahaman masyarakat menjadi kendala. Vaksin ibu hamil mengurangi risiko anak dan ibu terpapar virus corona.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Usman Hadi mengakui, vaksinasi ibu hamil belum bisa berjalan mulus. Kendalanya ada berbagai faktor. Pertama, kekhawatiran akan timbulnya efek samping. Hal ini disebabkan oleh ketidakpahaman masyarakat tentang manfaat vaksin ibu hamil. Kedua, izin dari suami. “Iya, memang banyak kendala yang kita hadapi. Suami ada yang tidak mengizinkan istrinya divaksin dan lain sebagainya,” kata Usman dikonfirmasi akhir pekan kemarin.

Iklan

Dari target 2.200 vaksin ibu hamil di Kota Mataram. Pihaknya baru menyasar sekitar 100 lebih ibu hamil. Pihaknya berusaha mengedukasi masyarakat melalui kader posyandu. Tujuan vaksin ibu hamil ini untuk menghindari risiko ibu serta anak terpapar virus corona.

Terlepas dari itu, pihaknya kata Usman juga berupaya sudah vaksin dosis kedua meningkat. Warga telah divaksin dosis pertama bisa datang ke fasilitas kesehatan. “Jadi vaksin sudah tersedia jadi tidak ada alasan lagi,” ucapnya.

Saat ini, Dikes tidak lagi menyetok vaksin. Pihaknya langsung mendistribusikan ke puskesmas dengan harapan bisa cepat melayani masyarakat.

Lurah Pagutan Timur, Dwi Cahyono juga mengakui, vaksin ibu hamil tidak semudah dengan vaksin masyarakat biasa. Pihaknya memiliki tantangan harus memberikan keyakinan agar ibu hamil percaya bahwa vaksin itu aman untuk dirinya dan anak di kandungan. “Misalnya dari 10 ibu hamil yang ditargetkan hanya bisa kita penuhi tiga – empat saja,” sebut Dwi.

Edukasi ke masyarakat terutama ibu hamil dinilai sangat penting. Karena itu, pihaknya tetap berkoordinasi dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana serta Dinas Kesehatan untuk memberikan pemahaman manfaat serta tujuan vaksin ibu hamil. Pola pendekatan melalui posyandu keluarga bisa lebih efektif. Kader bisa menginformasikan sekaligus mengajak ibu hamil untuk mau divaksin. “Memang perlu edukasi terus menerus,” demikian kata dia. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional