Vaksinasi Guru di Mataram Mencapai 81 Persen

H. Lalu Fatwir Uzali. (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram menyatakan vaksinasi coronavirus disease (Covid-19) bagi guru telah mencapai 81,52 persen. Jumlah tersebut didasarkan pada data yang diterima dari seluruh Kepala Sekolah tingkat SD dan SMP yang ada di Kota Mataram.

“Jadi jumlah guru dan Pengawas tingkat SD – SMP yang menjadi target kita sekitar 4.411 orang. Itu yang sudah divaksinasi 3.549 orang dan yang belum divaksinasi sekitar 815 orang,” ujar Kepala Disdik Kota Mataram, H. Lalu Fatwir Uzali, Rabu, 16 Juni 2021.

Iklan

Dari jumlah guru yang belum divaksinasi, pihaknya mencatat 9,25 persen atau 408 orang di antaranya memiliki penyakit penyerta sehingga tidak dapat melakukan vaksinasi. “Itu dibuktikan dari surat keterangan yang diberikan oleh petugas di Puskesmas atau petugas vaksinasi,” jelasnya.

Sekitar 3,45 persen atau 152 orang sedang menyusui sehingga tidak direkomendasikan menerima suntikan vaksin. Kemudian 1,72 persen atau sekitar 76 orang belum melakukan vaksinasi tanpa keterangan yang jelas.

Guru yang belum melaksanakan vaksinasi tanpa keterangan tersebut tersebar di seluruh kecamatan di Kota Mataram.Antara lain Kecamatan Sandubaya 8 orang, Kecamatan Cakranegara 4 orang, Kecamatan Mataram 4 orang, Kecamatan Selaparang 3 orang, Kecamatan Ampenan 32 orang, dan Kecamatan Sekarbela 8 orang.

“Jadi yang kita tidak tahu sama sekali alasannya apa hanya 1,7 persen ini. Ini yang kita sedang cari orangnya untuk berikan sosialisasi, agar pasti apa alasannya belum melakukan vaksinasi,” ujar Fatwir. Dengan capaian tersebut, target vaksinasi 95 persen pada pertengahan Juni yang telah disepakati bersama anggota dewan di DPRD Kota Mataram disebutnya telah tercapai.

“Tugas kita sekarang mengejar yang belum jelas ini.Kita minta guru yang belum (melakukan vaksinasi) supaya segera mendatangi Puskesmas.Semisal apapun alasannya biar petugas vaksinasi yang menentukan boleh tidaknya,” jelas Fatwir.

Dicontohkannya beberapa kasus di mana guru memiliki rasa takut untuk melakukan vaksinasi.Di mana hal tersebut menurutnya bersifat kasuistik dan harus bisa diatasi.“Lebih baik datang saja ke Puskesmas. Kalau memang tidak bisa divaksin karena darah tinggi atau yang lainnya, petugas yang buatkan surat keterangan. Itu nanti yang dikumpulkan oleh sekolah sebagai laporannya,” ujarnya.

Menurutnya vaksinasi Covid-19 bagi guru perlu menjadi perhatian bersama, kaitannya dengan upaya memulai proses belajar tatap muka di seluruh sekolah pada tahun ajaran baru mendatang. Dengan melakukan vaksinasi tersebut guru dan sekolah telah memberikan jaminan untuk keamanan peserta didik, di samping penerapan protokol kesehatan yang tetap dilakukan.

Di sisi lain, pihaknya akan menyerahkan 1,72 persen guru yang belum divaksin tersebut ke pada sekolah masing-masing. “Awalnya akan kita kumpulkan di kantor untuk divaksin, tapi karena jumlahnya sedikit kita serahkan ke sekolah masing-masing saja untuk diselesaikan. Intinya harus ada keterangan, supaya mereka semua melakukan vaksinasi,” tandas Fatwir.(bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional