Usulan Penundaan Pembangunan Smelter AMNT Belum Direspons Pusat

H. Amry Rakhman (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Permohonan penundaan pembangunan smelter yang dilayangkan PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) hingga saat ini belum direspons Pemerintah Pusat. Sementara, Pemprov NTB berharap pembangunan smelter tetap berjalan dengan memperhatikan protokol kesehatan Covid-19.

‘’Pusat juga belum membalas surat dari PT. AMNT itu,’’ kata Kepala Bappeda NTB, Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M. Si dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 14 Juni 2020.

Iklan

Amry mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan PT. AMNT terkait dengan pembangunan smelter di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Ia mengatakan Pemprov masih menunggu perkembangan situasi dan kondisi Covid-19.

‘’Perusahaan (AMNT),  kita harapkan jangan terlalu lama menundanya. Dia minta perpanjangan masa konstruksi. Tapi tak disebut mulainya,’’ terang Amry.

Dalam surat yang diajukan PT. AMNT ke Kementerian ESDM, kata Amry, mereka meminta perpanjangan waktu untuk konstruksi smelter. Hal inilah yang dimaknai oleh orang permintaan penundaan pembangunan smelter.

Meskipun AMNT mengajukan perpanjangan masa konstruksi smelter, bisa saja kata Amry, mereka memulai pembangunan konstruksi akhir 2020 atau awal 2021. Mengenai kapan AMNT akan memulai proses pembangunan smelter, hal inilah yang sedang dikoordinasikan.

‘’Kita mau lihat perkembangan sampai akhir bulan Juni. Kalau Juni ini semua aktivitas mulai dibuka, dunia juga dibuka, kan sirkulasi antar negara sudah bisa bagus,’’ katanya.

Mantan Asisten II Setda KSB ini menambahkan, kegiatan di lapangan tetap berjalan. Seperti clearing lahan yang menjadi lokasi pembangunan smelter. Termasuk proses pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB). ‘’Berkaitan dengan penundaan itu paling konstruksi mesin. Karena harus benar-benar hati-hati,’’ tandasnya.

Lahan yang menjadi kawasan inti pembangunan smelter sudah tuntas dibebaskan seluas 154 hektare. Setelah itu, dilanjutkan dengan pengurusan HGB.

Total lahan yang dibutuhkan sebagai lokasi pembangunan smelter dan industri turunannya seluas 850 hektare. Sekitar 430 hektare termasuk di dalamnya lahan yang tuntas dibebaskan seluas 154 hektare dan lahan milik PT. AMNT yang ada sekarang. Sehingga sisa lahan yang masih akan dibebaskan seluas 420 hektare.

Dari lahan seluas 154 hektare yang menjadi kawasan inti smelter, nantinya akan dibagi menjadi 12 blok. HGB diurus oleh PT. AMNT. Pemda melalui tim percepatan dan tim fasilitasi memberikan fasilitasi untuk percepatan.

Sebelumnya, PT. AMNT mengajukan permohonan penundaan pembangunan fasilitas pemurnian mineral (smelter) konsentrat tembaga 12 hingga 18 bulan. Permohonan tersebut dilayangkan secara resmi kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pekan lalu. Smelter yang berada di Sumbawa Barat itu terkena dampak pandemi Covid-19. Penundaan itu membuat pembangunan smelter mundur dari target pada akhir 2022.

Sedianya kapasitas smelter mencapai 2-2,6 juta ton konsentrat lantaran bekerjasama dengan PT Freeport Indonesia. Namun kerjasama itu kini sudah berakhir sehingga desain smelter yang digunakan kapasitas 1,3 juta ton. Adapun kemajuan pembangunan smelter hingga Januari mencapai 22,97 persen. (nas)