Usaha Kuliner Selama Ramadhan, Ekonomi Masyarakat Belum Normal

Salah satu penjual jajanan di Jalan Airlangga melayani pembeli. Dampak pandemi Covid-19 terhadap ekonomi masyarakat masih dirasakan, salah satunya dari penjualan makanan selama Ramadhan yang tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.(Suara NTB/bay)

Sejak awal Ramadhan 1442 Hijriah banyak penjual makanan bermunculan di sudut-sudut Kota Mataram. Momen sekali setahun tersebut memang sering dimanfaatkan masyarakat untuk menambah penghasilan, terutama dari usaha kuliner yang banyak digandrungi menjelang waktu berbuka.

KENDATI demikian, sejak Maret tahun lalu pandemi coronavirus disease (Covid-19) masih menjadi momok bagi masyarakat. Terutama terhadap potensi penularan virus tersebut, sehingga banyak aturan pembatasan kegiatan masyarakat dikeluarkan oleh pemerintah.

Iklan

Pandemi juga berpengaruh langsung terhadap perputaran ekonomi. Salah satunya daya beli masyarakat yang disebut berkurang karena banyaknya pemotongan upah, pemutusan hubungan kerja (PHK), bahkan penutupan unit usaha seperti di sektor pariwisata dan perdagangan.

Walaupun pelonggaran untuk kegiatan masyarakat telah diizinkan oleh pemerintah sejak awal 2021 lalu, kondisi ekonomi masyarakat yang sempat menurun belum kembali normal. Hal itu salah satunya dialami Widia yang sejak awal Ramadhan mencoba peruntungannya dengan berjualan jajanan di Jalan Airlangga, Mataram.

“Malah saya tahun lalu libur, tidak jualan saking sepinya. Tahun ini baru coba lagi, dan ternyata masih sepi,” ujarnya kepada Suara NTB. Widia yang saat ini menetap di Lingkungan Karang Baru Selatan memang rutin membuka usaha kuliner setiap Ramadhan. “Karena kalau usaha kuliner waktu (bulan) puasa itu sebenarnya lumayan untung,” sambungnya.

Widia antara lain menjual berbagai macam puding serta jajanan yang telah dikemas. Harga jual yang ditawarkan berkisar antara Rp5-7 ribu. “Kalau normal, biasanya saya buat 200 cup (untuk pudding), tapi sekarang saya coba 50-70 cup saja, ini pun kadang tidak habis,” jelasnya.

Hal serupa dialami Riki Zulkarnain, yang selama Ramadhan memilih menjual aneka lauk-pauk. Walaupun usahanya cukup ramai pembeli, kondisi saat ini menurutnya belum bisa dibilang 100 persen normal seperti sebelum pandemi.

“Kalau tidak Ramadhan saya biasanya jual buah, cuma sekarang beralih jual lauk-pauk dulu. Kalau habis saja baru kita bisa untuk sedikit, bisa Rp200 ribu per hari,” ujarnya. Dengan modal Rp1,5 juta, keuntungan tersebut disebutnya belum termasuk modal.

“Tapi memang tergantung, karena kadang juga tidak habis. Selama pandemi ini agak sepi memang, tapi kadang ada saja yang lebi,” jelasnya. Untuk itu, dirinya memilih menjual beberapa lauk yang banyak diminati dengan harga terjangkau. “Misalnya kita jual ebatan sama ikan bakar atau sop kepala ikan, ini yang paling cepat habis,” sambung Riki.

Lauk yang dijualnya berkisar antara Rp5-20 ribu per porsi. Harga tersebut menurut Riki terbilang murah, sehingga banyak pembeli datang dan lauk yang dijualnya bisa lebih cepat habis.

Selain pandemi Covid-19, untuk pedagang lauk seperti dirinya kenaikan harga bahan pokok juga menjadi momok lainnya. Dicontohkannya seperti harga cabai yang sempat naik di atas Rp100 ribu beberapa waktu lalu. “Itu juga bikin kita susah, tapi kita jalani saja. Karena kalau kita jualan, ada saja yang beli,” ujar Riki.

Dengan kondisi saat ini, dirinya berharap perputaran ekonomi dapat kembali normal. Salah satunya dengan bergeraknya dunia usaha yang diiringi dengan penerapan protokol kesehatan, terutama agar penularan Covid-19 dapat terputus. “Mudahan musibah ini cepat selesai,” tandas Riki. (bay)

Advertisement ucapan idul fitri ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional