Unram Gelar Simulasi Evakuasi Bencana Tsunami di Kuta Mandalika

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama Dan Sistem Informasi Unram Yusron Saadi memberikan materi pada Simulasi Evakuasi Peringatan Dini Tsunami di Kuta Lombok Tengah, Senin, 7 Desember 2020. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Universitas Mataram (Unram) melalui Pusat Kajian Pengelolaan Resiko Bencana (PKPRB) bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia (BNPB RI) melalui Direktorat Peringatan Dini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, dan BPBD Lombok Tengah menggelar acara Simulasi Evakuasi dan Penutupan Kegiatan Pemasangan Instrumentasi Peringatan Dini Bencana Tsunami Wilayah II Kuta Mandalika. Sosialisasi digelar di pelataran Masjid Nurul Bilad Kuta Mandalika, Senin, 7 Desember 2020.

Ketua Tim Pelaksana Eko Pradjoko, ST., M.Eng., Ph.D., mengatakan pesisir selatan pulau Lombok dan Sumbawa memiliki nilai risiko tinggi dalam bencana tsunami. Oleh sebab itu, acara ini digelar sebagai wujud semangat untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Iklan

“Kami tidak sekedar memasang sirine ini, namun kami juga membuat pelatihan tim tanggap bencana membuat SOP nya, pahkan Penyusunan SOP ini akan ditindaklanjuti dengan BPBD Lombok Tengah untuk bisa didukung dengan peraturan bupati,” ungkapnya.

Dia mengatakan sistem peringatan dini bencana tsunami (early warning system) ini merupakan sebuah menara sirine dengan tinggi 12 meter dari permukaan tanah. Sistem pengeras suaranya sendiri terletak di bukit sekitar Masjid Nurul Bilad, dengan ketinggian bukit 25 meter, sehingga total tinggi menara menjadi 37 meter, karena ketinggian mempengaruhi pada jangkauan kapasitas suara.

“Sistem kontrol pengaktifannya melalui jarak jauh melalui HP Android dan sebagai back up jarak jauhnya juga menggunakan radio,” bebernya.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama dan Sistem Informasi Yusron Saadi, ST., M.Sc., Ph.D., menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah karena telah melibatkan Unram dalam kegiatan yang penting dan strategis tersebut. Dia mengatakan tidak hanya kegiatan tersebut yang didukung Unram, namun juga kegiatan pendampingan dalam rangka pemulihan ekonomi pascagempa.

“Kami juga menyampaikan apresiasi kepada Bapak Kepala BPBD Provinsi dan Kepala BPBD Lombok Tengah yang telah memberikan dukungannya sehingga instalasi alat peringatan dini tsunami ini bisa terlaksana dengan baik, tidak hanya dari aspek fisiknya tapi juga dari kapasitas bangunannya, pelatihan-pelatihan dan juga kesiapan masyarakat yang terkait dengan ini juga,” tuturnya.

Dia pun menekankan, sistem instrumentasi peringatan dini tsunami yang telah selesai diresmikan itu menjadi tanda perjuangan baru dimulai. Masyarakat di sekitar menara, maupun petugas yang mengoperasionalkan serta merawat menara harus dipersiapkan sebaik mungkin.

“Harapan kami kepada menara ini, bahwa menara ini nanti bisa berfungsi dengan baik sehingga banyak nyawa bisa diselamatkan,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Lombok Tengah Murdi A P, M.Si., mengapresiasi kegiatan simulasi evakuasi dan pemasangan sistem peringatan dini bencana tsunami tersebut. Dia menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada BNPB RI karena telah memilih Lombok Tengah sebagai lokasi untuk dibantu dalam meminimalisir bencana tsunami.

“Terima kasih juga kepada Unram yang telah membantu menyiapkan infrastrukturnya, sumber daya manusianya dan berbagai hal untuk membangun sistem instrumentasi peringatan dini tsunami ini,” ujarnya.

Pemasangan sistem ini, menurutnya, karena memang area KEK Mandalika telah menjadi salah satu fokus perhatian dunia, sehingga sangat penting memiliki piranti dalam rangka meminimalisir risiko bancana.

“KEK mandalika menjadi sorotan dunia, maka sudah seharusnya manajemen kebencanaan yang dibangun berkelas internasional. Termasuk juga mobilisasi dan perlengkapan penyelamatan itu sangat penting untuk kita siapkan ke depan,” tegasnya.

Senada dengan Murdi, Kepala BPBD Provinsi NTB Ir. I Gusti Bagus Sugiartha, MT atas nama Pemerintah Provinsi NTB menyampaikan terima kasihnya kepada Unram yang telah melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan early warning system ini.

“Kita di dalam pelaksanaan kewaspadaan terhadap bencana ini tidak berjalan sendiri-sendiri, tapi kita kenal dengan bahasa penta helix,” ungkapnya.

Penta helix, ujarnya, merupakan sebuah sistem yang melibatkan semua stakeholder agar memiliki peranan penting baik itu pemerintah, non pemerintah, para pengusaha, masyarakat dan bahkan yang tak kalah penting para akademisi yang akan berfikir bagaimana mengurangi risiko bencana.

“Kalau misalnya kajian-kajian yang dilakukan pihak Unram ini mungkin dari sisi pemanfaatan dan pengelolaannya cukup baik, namun dari sisi ekonominya mungkin lebih murah, lebih terjangkau, saya yakin bahwa konsep-konsep yang ada di unram ini bisa dilaksanakan secara masif,” pungkasnya. (dys)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional