Ummat Tarik 999 Mahasiswa Peserta KKN

Penarikan mahasiswa KKN Ummat, Kamis, 15 Oktober 2020. KKN dilakukan di desa asal mahasiswa. (Suara  NTB/dys)

Mataram (Suara NTB) – Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) resmi menarik 999 mahasiswa peserta KKN. Selama 45 hari berada di lokasi KKN terhitung sejak dilepas pada 1 September lalu, per Kamis, 15 Oktober 2020 kegiatan KKN mereka dinyatakan selesai.

Ketua Panitia KKN UMMAT, Suandi, M.Ag., menjelaskan, dalam prosesnya kampus telah menyiapkan pola pelaporan harian. Berdasarkan pantauan, ada sebanyak 52 mahasiswa yang sama sekali belum melakukan pelaporan harian selama KKN.  “Berdasarkan informasi ada kasus belum upload laporan,” ujarnya.

Iklan

Oleh karena itu, pihaknya memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang mengunggah pelaporan agar segera diberikan penilaian. “Setelah itu kami akan berikan koreksi dan penilaian. Kami setiap hari mengecek memastikan mahasiswa aktif di lokasi KKN,” ujarnya.

Diakuinya, pola KKN tahun ini berbeda dari KKN dalam situasi normal. Tidak ada lagi kelompok KKN, dan KKN dilakukan di desa asal mahasiswa. Pihaknya pun mengucapkan terima kasih pada para kepala desa yang telah menerima mahasiswa Ummat dalam pelaksanaan KKN. “Semoga kerjasama ini bisa berlanjut di masa selanjutnya,” harapnya.

Ketua LPPM Ummat Syahrir Idris, PhD., mengaku KKN kali ini membawa berkah. Setelah 45 hari melakukan KKN, tidak saja di NTB akan tetapi ada juga dari Madura dan Kalimantan.

“Jadi Alhamdulillah ini mungkin berkah terselubung dari Covid-19. Kalau sebelumnya KKN hanya dilakukan di NTB. Sekarang berlangsung di hampir semua desa di NTB dan puluhan desa di luar NTB,” ujarnya.

Ditambahkan KKN tahun ini merupakan sangat istimewa bagi seluruh mahasiswa KKN karena mereka tidak bisa laksanakan KKN secara normal. Melainkan dengan cara luar biasa. Efeknya bisa mengenal desa-desa di NTB secara keseluruhan. Meski katanya, sebagai ikhtiar baru tentu saja ada kekurangan.

Dampak positif KKN era new normal ini ialah mahasiswa menemukan terobosan baru di dalam melakukan KKN. Sebagai contoh ketika ada kesulitan, tapi mereka bisa selesaikan melalui komunikasi online. Di samping bisa menggerakkan masyarakat melalui media sosial.

Alhasil, ada juga mahasiswa yang mampu mensosialisasikan desanya sebagai tempat wisata. Padahal desa ini belum terekspos sebelumnya.  “Kalau secara normal mungkin desa yang sebelumnya tidak dibayangkan tidak mungkin terekspos. Saya mendengar ada laporan bahwa KKN kita bisa dilihat diikuti oleh orang dari Australia. Bisa disaksikan oleh orang-orang di Turki. Inilah keberkahan,” paparnya. (dys)