UMKM di Lombok Mulai Bergairah, Efek Pendampingan Disnakertrans NTB

Kadisnakertrans Provinsi NTB Gede Putu Aryadi menunjukkan produk UMKM yang  diberikan pendampingan.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Para pelaku usaha dan pekerja di sektor UMKM di Lombok bercerita tentang getirnya perjuangan mereka bangkit dari dua musibah sekaligus. Ketika gempa mengguncang Lombok Agustus 2018 lalu, sudah cukup membuat mereka terpuruk.

Saat bangkit perlahan, setahun kemudian, mereka dihantam badai Pandemi Covid-19. Dinamika itu disampaikan pada acara Pelatihan Peningkatan Produktivitas bagi Pekerja Sektor UMKM, di Aula LPKS Budi Luhur di Kecanatan Batulayar, Lombok Barat belum lama ini.

Iklan

Mereka curhat di hadapan Kepala Disnakertrans NTB, Gede Putu Aryadi, sekaligus menyampaikan, perlahan lahan usaha mereka bisa bangkit. Disnaktertrans Provinsi NTB ikut andil dalam proses pemulihan itu berkat pendampingan beberapa bulan terakhir.

Salah satunya Sry Sugesti, pemilik Gesty Syaffi. Sry menceritakan perjuangan membangun usaha dari nol, jatuh bangun  karena berbagai kendala. Namun ia mengaku tidak patah semangat. Gesty Syaffi yaitu usaha yang membuat produk herbal (minyak gosok), minyak kelapa murni, susu kuda liar, bawang putih tunggal, black garlic.

Pemilik usaha ini adalah Sry Sugesti berasal dari Bima dan sekarang menetap di Lingkar Asri Labuapi. Sri memulai usaha Gesty Syaffi tahun 2016, tetapi baru daftar di UMKM tahun 2017.

Untuk Gesty Syaffi sendiri memasarkan produknya dengan mengandalkan situs online di Marketplace Facebook.

Sebelum pandemi, sekitar 5-6 tenaga kerja karena harus stok opname setiap hari. Sayangnya semenjak pandemi covid 2 tahun ini, usahanya benar-benar hancur, omzet pun turun drastis hanya bisa mempekerjakan 2 tenaga kerja.

Tahun 2017-2018 perminggu bisa Rp10 Juta sampai Rp 15 juta. Ketika gempa 2018, usahanya vakum beberapa bulan, lalu mulai bangkit perlahan. “Omzet kembali pulih pada angka Rp5 juta per pekan,” kenangnya.

Nah saat covid beberapa bulan ini, benar-benar hancur. Naik turun omzet, sekedar untuk kebutuhan hari-hari saja. Itu pun dari penjualan online dan langganan luar daerah saat pameran sebelumnya. “Omzet tertinggi kami adalah toko oleh-oleh sebagai jantung kehidupan kami,” ungkap Sry.

Tak jauh berbeda dengan Gesty, UKM Sasak Maiq yang memulai usaha di Februari 2013,  memiliki produk unggulan olahan rumput laut, seperti kopi rumput laut, tortilla rumput laut, rengginang rumput laut, terasi sangrai.

Baiq Siti Surinani pemilik UKM Sasak Maiq, menceritakan, sebelum gempa dan pandemi Covid-19, ia mampu memproduksi sekitar 500 bungkus per hari. Beruntungnya karena kualitas produknya yang baik, saat ini Sasak Maiq mendapatkan tawaran kerja sama dari Denpasar dengan kemungkinan produknya akan diekspor.

UKM Sasak Maiq sebelum musibah gempa 2018 menghasilkan omzet Rp120 juta per bulan dengan tenaga kerja sebanyak 20 orang. Tahun 2020 omzet anjlok menjadi Rp50 juta per bulan dengan tenaga kerja sebanyak 12 orang . “Tahun 2021 tenaga kerja merosot menjadi 4 orang dengan omzet saat ini hanya Rp 15 juta per bulan,” keluhnya.

Baiq Yuliana Fitri selaku pemilik Difiya Jamur juga mengungkapkan bahwa usaha yang berdiri sejak 2015 dengan produk unggulan hasil olahan jamur hanya mampu meraup omzet Rp15 juta per bulan setelah pandemi. Sebelum pandemi, krispy dan kripik jamur telah dipasarkan ke Lottemart.

Namun sekarang Lottemart hanya meminta jamur segar saja dengan minimal permintaan 8 kg per hari. Sementara produk olahan jamur dititip di toko, NTB Mall dan beberapa reseller.

“Dinas perdagangan sudah menawarkan Difiya Jamur untuk memenuhi kebutuhan di hotel-hotel. Jika memang perjanjiannya jelas, kami siap untuk memenuhi kebutuhan tersebut,”ujar Baiq Yuliana.

Sementara itu, Imam pemilik UMKM Banuwara Bersatu mengungkapkan bahwa dengan produk unggulannya Madu Trigona, Madu Cerana, Madu Dorsata dan Bee Bread Juice mampu memroduksi sekitar 25 liter per panen per 4 bulan. Ia meraup omzet rata-rata perbulannya sekitar Rp 3 juta.

Allaily Zulfa Hidayati pemilik usaha Lumbung Madu Hasanah. Zulfa memulai usaha sejak tahun 2016 dan mendaftarkan menjadi UMKM pada tahun 2019. Lumbung Madu Hasanah memproduksi madu sekitar 700 kg per bulan dengan penjualan sekitar 500 kg per bulan.

Kepada Disnakertrans NTB, mereka mengapresiasi pendampingan dan pelatihan peningkatan produtivitas untuk meningkatan kualitas produk dan juga pengembangan bisnis UMKM.

Setidaknya sudah ada secercah harapan, ketika mendapat pendampingan dari Disnakertrans untuk pelatihan kewirausahaan, produk mulai dilirik dan bisa merambah pasar yang lebih luas.

Kadis Nakertrans Provinsi NTB, Gede Putu Aryadi mengakui,  para pelaku usaha dan pekerja di sektor UMKM di Lombok merasakan perlunya pendampingan dan pelatihan peningkatan produtivitas. Ini  untuk meningkatan kualitas produk dan juga pengembangan bisnis UMKM. Salah satunya lewat pelatihan kewirausahaan yang digelar instansinya.

“Berkat pendampingan dan pelatihan kewirausahaan inilah, produk kami mulai dilirik dan bisa merambah pasar yang lebih luas,” ujar Gde Aryadi mengutip salah satu pelaku usaha, Sry Sugesti pemilik Gesty Syaffi. (tim)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional