UMKM Berupaya Bangkit di Tengah Pandemi

Kadis Nakertrans NTB, Gde Putu Aryadi (tengah) foto bersama dengan pelaku UKMK. (Suara NTB/ist)

PANDEMI Covid-19 yang telah mewabah hampir dua tahun terakhir, telah berimbas pada hampir seluruh sektor usaha. Termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Usaha pelaku UMKM khususnya di NTB benar-benar terpukul dan nyaris gulung tikar.

Di tengah keterpurukan, para pelaku UMKM tidak berdiam diri. Mereka berupaya bangkit, dengan terus berjuang agar bisa bertahan. Seperti disampaikan,  Sri Sugesti, pemilik  Gesty Syaffi usaha yang bergerak di bidan pembuatan produk herbal (minyak gosok), minyak kelapa murni, susu kuda liar, bawang putih tunggal ( black garlic). Sri memulai usaha Gesty Syaffi tahun 2016, tetapi baru daftar di UMKM tahun 2017.

Iklan

Untuk Gesty Syaffi sendiri memasarkan produknya dengan mengandalkan situs online di marketplace Facebook.  Sebelum pandemi,  ia mempekerjakan 5-6 tenaga kerja. Sayangnya semenjak pandemi Covid-19, permintaan pasar menurun drastis. Sri bahkan mengatakan usahanya benar-benar hancur. Omzet nya yang turun drastis, memaksa Sri hanya  bisa mempekerjakan dua tenaga kerja.

‘’Tahun 2017-2018 per minggu bisa Rp10-Rp15 juta. Ketika gempa 2018, kami vakum beberapa bulan, lalu mulai bangkit perlahan. Omzet kembali pulih  Rp5 juta perminggu. Nah saat Covid,  benar-benar hancur. Omzet kami hanya sekadar untuk bisa bertahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja,’’ ujarnya

Tak jauh berbeda dengan Gesty, UMKM Sasak Maiq yang memulai usaha di Februari 2013,  memiliki produk unggulan olahan rumput laut, seperti kopi rumput laut, tortilla rumput laut, rengginang rumput laut, terasi sangria juga mengalami nasib yang sama. Baiq Siti Surinani pemilik UMKM Sasak Maiq, menceritakan bahwa sebelum gempa dan pandemic Covid-19, usahanya mampu memproduksi sekitar 500 bungkus perhari.

‘’UMKM Sasak Maiq sebelum musibah gempa 2018 menghasilkan omzet Rp 120 juta/bulan dengan tenaga kerja sebanyak 20 orang. Tahun 2020 omset Rp 50 juta/bulan dengan tenaga kerja sebanyak 12 orang .Tahun 2021 akibat pandemi Covid-19  tenaga kerja kami tinggal  4 orang dengan omset saat ini hanya Rp 15 juta/bulan,’’ ujarnya.

Tak jauh berbeda yang dialami Baiq Yuliana Fitri selaku pemilik UMKM Difiya Jamur . Ia mengungkapkan bahwa usaha yang  didirikan sejak 2015 dengan produk unggulan hasil olahan jamur  omzetnya anjlok akibat pandemi Covid-19.

Sebelum pandemi, UMKM Difiya Jamur memasok olahan jamur dan jamur segar ke Lotte Mart. Namun sejak pandemik, Lotte Mart hanya hanya meminta jamur segar saja.

Di tengah lesunya penjualan produk-produk UMKM, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, menginisiasi memberikan pelatihan kepada para pelaku usaha dan pekerja di sektor UMKM ini.  Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, Gde Putu Aryadi, S.Sos.M.H mengatakan, perlunya pendampingan dan pelatihan peningkatan produktivitas untuk meningkatan kualitas produk dan juga pengembangan bisnis UMKM.

Pelatihan peningkatan produktivitas bagi pekerja sektor UMKM ini mendesak dilakukan, agar produk-produk yang dihasilkan bisa bersaing tidak saja di pasar lokal. ‘’Juga di pasar nasional dan bahkan pasar internasional,’’ ujar Gde saat membuka Pelatihan Peningkatan Produktivitas  Bagi Pekerja Sektor UMKM, di Aula LPKS Budi Luhur, kemarin. (rak)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional